Rupiah Merana ?
OLEH : HERU NURDIANSYAH*
Akankah krisis moneter tahun 1998 terulang kembali ? namun,
tidak seperti 17 tahun yang lalu dimana posisi Indonesia saat itu dilanda
kepanikan. Pada saat itu rupiah melemah dengan tajam hingga mencapai 17.000 per
dolar AS dalam hitungan bulan dari kisaran US$ 4.500.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD)
berdasarkan data Bloomberg berada
pada level Rp 14.322/USD. Posisi tersebut mendatar dengan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp. 14.333/USD.
Berdasarkan kurs rupiah saat ini dari Jakarta Interbank Spot Dollar Rate
(Jisdor) BI pada level Rp 14.322/USD, menguat 16 poin dari posisi sebelumnya
pada level Rp 14.322/USD. Hal ini merupakan nilai tukar rupiah terburuk
sepanjang tahun 2015.
Dalam presentasi Presiden Jokowi pada Indonesia outlook
2015 Januari lalu, beliau sudah memaparkan target yang harus dicapai oleh
masing-masing menteri. "Kalau tidak mampu, masih banyak yang siap jadi
menteri" begitu kelakar Presiden Jokowi.
Sementara rupiah melemah, permasalahannya bukan berada
pada mata uang itu sendiri, melainkan kondisi perekonomian Indonesia semakin
terpuruk. Hal itu disebabkan oleh kelalaian kita sendiri. Saat ini dapat kita
lihat bahwasannya nilai rupiah mengalami ketidakstabilan dan selalu berubah-ubah
bahkan mempengaruhi perekonomian makro
di Indonesia. Data terakhir yang diambil dari Bank Sentral Republik Indonesia menyatakan
bahwa nilai tukar rupiah semakin terkikis bahkan hingga menembus Rp 14.700. Hal
itu masih ternilai relatif sangat tinggi dan mempengaruhi semua hal dalam
perekonomian di Indonesia. Secara garis besar ada tiga variabel yang
mempengaruhi ekonomi di Indonesia yaitu, variabel yang pertama berhubungan
dengan nilai tukar rupiah.
Merosotnya nilai tukar rupiah membuat permintaan
masyarakat terhadap mata uang rupiah menurun, yaitu menurunnya perekonomian
nasional atau meningkatnya permintaan mata uang asing sebagai alat pembayaran
internasional. Dampak yang akan terjadi adalah meningkatnya biaya impor bahan
baku.
Kebanyakan artis bahkan masyarakat umum lainnya sering
jalan-jalan ke luar negeri yang hanya demi hiburan saja, justru hal tersebut
mengakibatkan kerugian bagi Indonesia sendiri, karena nominal transaksi akan
memberikan dampak terhadap penguatan nilai rupiah yang sangat kecil.
Variabel kedua adalah tingkat suku bunga, dimana nilai
suku bunga akan meningkat dan berdampak pada perubahan investasi di Indonesia. Sedangkan
variabel ketiga adalah terjadinya inflasi, meningkatnya harga-harga secara umum
dan kontinu, dengan begitu komsumsi masyarakat meningkat, dan berlebihnya
likuiditas di pasar juga memicu komsumsi dan spekulasi.
Masyarakat Indonesia merasa khawatir tentang menguatnya
nilai dolar terhadap rupiah, jika hal itu terjadi inflasi besar-besaran akan
melanda negeri ini. Dampak secara signifikannya akan membuat bahan-bahan pokok
akan melonjak serta bahan BBM akan naik, bukan hanya itu saja saham di Indonesia
akan mengalami kerugian sangat besar dan hutang luar negeri mengalami peningkatan
nilai. Kerugian ini timbul akibat adanya
inflasi tersebut, dan ini sangat terasa
oleh kalangan masyarakat berpendapatan kebawah.
Masyarakat Madura juga merasakan dampak adanya penguatan
nilai Dollar diatas rupiah. Banyak harga sembako mengalami peningkatan,
terutama harga gula naik cukup drastis,
dari harga Rp 9.500 menjadi Rp12.500 per kg, bahkan harga telur sampai menembus yang sebelumnya seharga Rp16
ribu menjadi Rp 20 ribu per kilogram. Sedangkan harga beras juga ikut mengalami
peningkatan harga dan memberikan dampak signifikan terhadap masyarakat saat
ini.
Kota Sumenep
mengalami inflasi terendah sebesar 0,02 persen dengan IHK masing-masing 118,76.
Inflasi tersebut berdampak bagi perekonomian Pulau Madura. Secara keseluruhan,
Madura termasuk salah satu daerah kaya akan Sumber Daya Alam di provinsi Jawa Timur. Tidak seperti Pulau
Jawa, tanah di Madura kurang cukup subur untuk dijadikan tempat pertanian. Namun,
Madura juga memiliki potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang
tidak kalah dengan pulau lainnya.
Lantas sebagai warga Negara Indonesia, entah itu rakyat
kecil atau bahkan wakil rakyat kita harus ikut berperan dan saling
berkesinambungan satu sama lain dalam
ranah politik ini supaya Rupiah tidak merana, tidak hanya menyalahkan Presiden
saja. Akhir-akhir ini pejabat Negara atau yang sering kita sebut wakil rakyat
malah sering menggelapkan dana pemerintah, padahal rakyat kecil di pelosok
mengalami kekurangan, justru berbeda dengan kehidupan wakil rakyat yang malah
semakin membuat hutang Indonesia semakin bertambah.
Kebijakan ekonomi harus dikeluarkan pemerintah seperti penyama
rataan pajak perusahaan asing maupun lokal, mengurangi pajak penghasilan bagi
perusahaan yang berorientasi ekspor minimal 30%, meningkatkan porsi penggunaan
biodesel sollar agar tidak boros BBM, memperlancar remitansi dan mengurangi
pajak bagi investor yang mau ber investasi di Indonesia.Tidak hanya itu saja
kebijakan ekonomi yang harus dikeluarkan.
Pemerintah harus siap melakukan pembangunan infrastruktur
untuk mendukung kemajuan ekonomi. Madura merupakan tempat pembangunan
infrasruktur yang nantinya akan membuat penghasilan bagi perekonomian Indonesia
bertambah, yaitu mulai mengelola sumber
daya alam sehingga semakin melimpah. Tidak hanya sumber daya alam namun dari
segi pariwisatanya di pulau Madura mulai dikelola dengan baik, sehingga
pengunjung khususnya wisatawan asing tertarik dengan keindahan pulau Madura
yang tersembunyi.
Mataram (Madura tanah garam ) adalah sebutan untuk pulau
Madura dengan penghasil garam terbaik di Indonesia, maka dari itu saran dari
penulis agar pemerintah mulai fokus terhadap sumber daya alam tersebut dan
bekerja sama dengan petani garam sehingga menghasilkan garam terbaik dan akan
membuat perusahaan luar negeri tertarik
mengivestasikan ke Indonesia.
*Penulis adalah mahasiswa di UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA Fakultas FISIB, Jurusan ILMU KOMUNIKASI asalDesa Tanjung Kec. Pademawu Kab. Pamekasan

Terima kasih Suara Madura. Tidak hanya opini saja, tapi masih banyak lagi yang akan saya aspirasikan di media ini.
ReplyDelete