Program Berita Kriminal Saatnya Dibunuh
Oleh:
MOHAMMAD IRSYAD





Perkembangan media massa saat ini telah pesat, tidak hanya di media cetak melainkan di media elektonik seperti Televisi sudah mulai menunjukan kemajuan. Di dalam program-program acaranya telah menunjukan progres yang siknifikan, seperti halnya mengenai Program berita Kriminal. Seluruh Pertelevisian saat ini memang sedang memutar ide dan kreatifitasnya untuk memberikan suatu program acara mengenai berita Kriminal.
Sepanjang tahun 2000 sampai saat ini, berita kriminal menjadi primadona tayangan televisi Indonesia. Para produser berasumsi, bahwa tayangan seperti itu lebih laku ketimbang berita politik dan infotainment karena masyarakat telah jenuh menyaksikan carut marut peristiwa politik dan pemberitaan artis Indonesia yang sekiranya tak layak di publish yang hanya memberitakan tentang gosip belaka tanpa memperhatikan fakta. Sedangkan berita kriminal merupakan berita tindakan penyimpangan perilaku yang dilakukan masyarakat secara fakta bahwa benar-benar terjadi dilingkunagan kita.
Berita Kriminal yang dominasi tayangan kekerasan menjadi salah satu andalan stasiun televisi seperti kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi di Surabaya yang dilakukan oleh suaminya sendiri karena kesal kepada istrinya hanya permasalah sepele. Ada berita yang sangat unik yang diberitakan oleh salah satu televisi swasta mengenai hanya gara-gara suami ingin berhubungan intim sedangkan istrinya tidak mau melayani karena capek malah seorang suami tega membakar istrinya dengan cara sadis.  
Fenomena tindakan kriminal tidak jauh dari kehidupan kita, hanya kita tuli dengan hal itu kadang kita cuek dalam menanggapi pemberitaan mengenai tindakan kriminal, tapi malah salah besar bagi kita tidak menanggapi hal itu. Tidak hanya memberikan suatu informasi tapi malah akan menjadi sebuah ilmu yang sekiranya bagi semua orang dapat meniru perbuatan tindakan kriminal tersebut.
Sponsor iklan pun terdongkrak tinggi jika pengelola televisi mampu menyuguhkan peristiwa kriminal yang sarat kekerasan sebagai sebuah entertainment. Masyarakat yang kesal dengan tindak kriminal yang semakin mejadi-jadi seolah terpuaskan ketika melihat tayangan seorang pencurian maupun perampok yang mencoba melarikan diri dari penangkapan ditembak kakinya oleh polisi dan pelaku pembunuhan yang dilakukan Jean Alter terhadap Sri wahyuni terungkap menjadi bukti pemberitaan kriminal memang benar-benar penting dan sangat diminati oleh masyarakat.
Salah satu Program acara yang ditayangan di salah satu televise swasta adalah bukti lemahnya unsur-unsur jurnalis yang seharusnya lekat pada diri jurnalis. tak hanya menyajikan rekam peristiwa yang sangat-sangat kurang memperhatikan Standar program siaran tetapi juga reka ulang (rekonstruksi) justru memberikan terpaan kepada khalayak terutama khalayak pemula. Semisalnya darah berceceran tanpa disamarkan (blur) kerap kali memasuki ruang-ruang keluarga. Meski telah ada Pedoman Perilaku Penyiaran/ Standar Program Siaran (P3SPS) yang dibuat, namun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) tak mampu menghentikan program tersebut. Upaya KPI melindungi kepentingan publik melalui teguran seolah menguap begitu saja bagaikan sebuah kapas terbang tak bertali mungkin kata tersebut pantas untuk penegak hukum mengenai pertelevisian Indonesia saat ini.
Program yang menyajikan Kriminal kerap memunculkan kekhawatiran karena tak hanya ditonton orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Kekhawatiran itu sangat beralasan bagi kita bahwa terpaan berita kriminal sangat bahaya apalagi pada anak-anak atau remaja. membicarakan topik berita kriminal tentu tak bisa dilepaskan dari kesuksesan acara ditayangan di salah satu televise swasta, yang menayangkan berita-berita kriminal secara langsung dari tempat kejadian. acara ini awalnya diilhami oleh Cakrawala yang ditayangkan Antv. Setelah Patroli sukses dengan rating dan pendapatan iklan yang tinggi, televisi lain berlomba-lomba membuat program acara serupa.
Tak puas dengan berita kriminal seperti itu yang hanya sekilas menyajikan kasus kekerasan, kemudian dibuat acara bedah kasus yang berusaha mengungkap secara lengkap peristiwa-peristiwa kriminal berdasarkan tinjauan motif, latar belakang pelaku dan korban, kronologi peristiwa, proses hukum, hingga analisis dari kriminolog atau psikiater. Sebutlah Derap Hukum (SCTV), Fakta (ANTV), Lacak (TransTV), Jejak kasus (Indosiar).
Tingginya minat masyarakat terhadap tayangan kriminal sebenarnya berangkat dari keinginan menyaksikan kenyataan (reality show). Masyarakat tentu masih ingat peristiwa Fenomena yang dilakukan Sumanto atau pembunuhan berantai oleh Ryan. Meski sebenarnya jijik, namun  mereka “tertantang” untuk tetap menyaksikan runtutan kejadiannya. Berbagai saksi disertakan sehingga terjalin cerita secara utuh. Rekonstruksi dilakukan untuk memberi gambaran peristiwa yang sebenarnya terjadi di lapangan sehingga benar-benar terlihat nyata.
Pada peristiwa lain di acara lain, penonton juga bisa menyaksikan kehebatan polisi mengejar bandar narkoba atau maling motor. Kamera menyorot polisi yang penuh semangat melakukan pengejaran sambil menggenggam pistol. Lalu penjahat yang ketakutan diberi tembakan peringatan, jika tetap melawan akan ditembak kakinya. Dan, lagi-lagi kamera merekam penjahat yang bersimbah luka tak berdaya. Tentu dari berbagai tindakan kriminal yang terjadi pada lingkungan sekitar kita yang paling memperhatinkan mengenai pembunuhan secara mutilasi tentu bagi sebagian pemirsa jijik tapi dibalik pemberitaan mengenai mutilasi tentu ada sebuah konstruksi pemberitaan yang akan memberikan sebuah gambaran bagaimana seorang pelaku melakukan mutilasi korban secara sadar dan benar-benar sadis, sehingga disisi lain pemberitaan itu akan dapat memberikan wawasan terhadap masyarakat bagaimana melakukan pembunuhan secara mutilasi. Tentu sangat bahaya ini apalagi pemberitaan itu tidak hanya sekali terjadi tetapi berulang ulang maka dapat di akomodasi terpaan pemberitaan kriminal dapat mempengaruhi pola pikir masyarakat yang ingin berbuat tindakan kriminal.

Persoalannya,
mengapa tayangan kriminal terus diproduksi dan disiarkan pada waktu yang sekiranya tidak tepat?
Siapa yang dapat memberhentikan hal itu?
Faktor-faktor apa yang melatarbelakangi tetap berlakunya pemberitaan hal itu?
Bagaimana persoalan itu tetap terjadi?
Siapa yang pertama yang perlu disalahkan?
Apakah pemberitaan hal itu tidak bisa dibunuh?
Apakah anda ingin korban-korbannya berjatuhan?
Apakah anda ingin keluarga kita jadi korban selanjutnya?
Apakah anda ingin, tindakan kriminal itu terjadi disekitar anda ataupun lingkungan anda?
Siapa yang akan bertanggung jawab semua hal itu?
Tentu pertanyaan hal itu yang muncul pada masyarakat yang peduli akan adanya terpaan media ekstrim saat ini, sunggguh memperhatinkan negeri yang sudah 69 merdeka tapi nyatanya tidak seperti itu. Tindakan kejahatan terus merajalela di lingkungan kita.
Kembali lagi soal berita kriminal dan pengaruhnya terhadap publik, jika asumsi kita tentang bahaya jangka panjang dari terpaan berita kriminalitas menjadi kenyataan, maka dikhawatirkan pemirsa dengan tingkat media literacy belum memadai yang terus menerus mengonsumsi berita kriminal akan memiliki kecenderungan memandang tindakan criminal adalah jalan keluar terbaik untuk menyelesaikan persoalan. Tentu salah besar tindakan criminal tidak dapat menyelesaikan permasalahan melainkan menambah permasalah.

            Tapi di balik fenomena yang terjadi di program acara Kriminal tidak semua jelek hanya saja terpaan berita kriminal yang meluas dan banyak masyarakat tidak jeli menanggapi persoalan dalam isi berita tersebut. Maka dari itu kita sebagai generasi muda harus pintar-pintar memilah antara edukasi dengan manipulasi yang dilakukan oleh sebagian besar televisi Indonesia saat ini. Ada hal yang perlu dipelajari dari pemberitaan kriminal dengan cara bagaimana kita mewaspadai tindakan criminal, cara menghindari tindakan criminal dan bagaimana cara kita mengatasi permasalahan tanpa tindakan criminal itu mungkin menjadi nilai plus dari pemberitaan tindakan kriminal. Tanamkan dan biasakan pada diri kita dalam 3 hal untuk menjalankan kehidupan agar terhindar dari tindakan kriminal, yang pertama ketika kita mau butuh bantuan seseorang harus kita awali dengan mintak tolong, setelah kita sudah mendapatkan bantuan orang lain kita ucapkan terima kasih, dan yang terkahir ketika kita merasa bersalah maka kita jangan malu dan mengakui kesalahan kita dengan mengucapkan mohon maaf. Dari ketiga hal itu  kita juga  tetap harus was pada (was padalah was padalah).
*Penulis adalah mahasiswa di UNIVERSITAS  TRUNOJOYO MADURA Fakultas FISIB, Jurusan ILMU KOMUNIKASI asal Desa Bunder Kec. Pademawu Kab. Pamekasan 

0 komentar:

Post a Comment

 
Suara Madura © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top