Rendah Mental Tinggi Harapan
Oleh : Muhammad Ulil Yahya
Mahasiswa Umiversitas Trunojoyo Madura, jurusan Ilmukomunikasi, Fak: Fisib




Negara Indonesia  merupakan Negara yang kebanyakan orang menjulukinya sebagai Negara maritim atau Negara yang subur dikarenakan kekayaan alamnya yang melimpah. Namun, kenyataanya Indonesia adalah  sebuah Negara yang  mayoritas penduduknya hidup dari ketergantungan dan keterpaksaan dimana mental masyarakat hanya ditekankan pada bagaimana mereka bisa bertahan hidup dan senang. Pendidikan, teknologi, dan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tidak terkendali merupakan penyebab utama bahwasanya masyarakat Indonesia terdiri dari masyarakat yang di dominasi oleh masyarakat menengah kebawah bagaimana tidak lebih dari 27,7 juta penduduk hidup dalam garis kemiskinan.
Bukan hanya kemiskinan yang mendominasi, seperti halnya kekerasan dalam rumah tangga, pemerkosaan, perampokan, dan lain sebagainya sudah menjadi tren di media yang tidak asing lagi. Bagaimana tidak di sebut dengan rendah mental tinggi harapan jika dilogika masyarakat Indonesia  secara jalur pendidikan saja seorang yang bergelar Sarjana, Provesor maupun Doctor sekarang bertambah banyak dari tahun ketahun selalu bertambah tapi mengapa kasus-kasus penyimpangan tersebut juga bertambah banyak. Semua itu karena mereka fokus pada tujuan dan harapan mereka saja tanpa diimbangi dengan mental yang tinggi untuk mengimbangi fokus tersebut.
Lebih dari 1 juta mahasiswa di Indonesia mendapat gelar Sarjana setiap tahunya, tapi kenapa dan mengapa? kemakmuran tidak terjamin dari banyaknya orang-orang pintar di Negara Indonesia. Mengejutkan lagi jika salah satu menteri agama di Indonesia menyandang julukan koruptor. Kepintaran dan gelar hanya dimanfaatkan bagi mayoritas orang untuk memanfaatkan orang lainnya demi kepentingannya. Jika demikian, apa yang harus dilakukan kita sebagai masyarakat yang ingin mencapai kesejahteraan dimana kesejahteraan tidak hanya individu tapi menyeluruh bagi seluruh mayarakat.
Focus yang salah
Masyarakat di era modern ini terus di pompa dengan kebudayaan-kebudayaan bangsa lain yang hanya berorentasi pada komersialisme atau keuntungan semata. Tayangan-tayangan di media televisipun banyak yang menayangkan kebudayaan menghina,membuli,menyepelekan orang lain yang sudah menjadi hal yang biasa di media kita. Tayangan seperti ini sudah menjadi andalan oleh para pemain media untuk merebut hati para pemirsanya, sehingga efek dari tontonan tersebut sangat sekali berefek kepada pembentukan moral masyarakat di Indonesia.
Mengapa penayangan media terutama televisi bisa membentuk karakter mental masyarakat Indonesia. Menonton  televisi  merupakan  aktivitas yang paling di sukai oleh mayoritas masyarakat baik dewasa maupun anak-anak. Dari salah satu penelitian  rata-rata masyarakat Indonesia menonton televisi selama lebih dari 5 jam per hari. Menonton televisi merupakan salah satu kegiatan yang memerlukan beberapa aktivitas seperti aktivitas indera pendengaran,penglihatan dan juga fikiran kita. Sehingga secara tidak langsung masyarakat Indonesia pola kehidupannya akan mengikuti apa yang menjadi tren tayangan televisi tersebut mulai dari penampilan luar dan juga penampilan dalam atau karakter mental mereka akan terpengaruh. Maka tidak heran jika gaya anak muda sekarang dibilang alay yang notabenenya adalah anak yang gaul, keren dan juga pintar layaknya seperti pemeran utama didalam drama serial film tanah air.
Ditambah lagi sekarang  dari efek media Indonesia adalah konsumerisme alat-alat elektronik  seperti handphone dan sejenisnya telah merajalela di masyarakat, keadaan ini juga diimbangi dengan perkembangan teknologi canggih. Dari segi pengakses internet saja Indonesia menempati peringkat  lima besar di Dunia. Mental masyarakat yang mengejar perkembangan alat-alat elektronik terbentuk karena masyarakat berfikir kesenangan dan kenyamanan bisa mereka peroleh dengan memiliki alat komunikasi yang canggih seperti handphone dll, mereka merasa menjadi orang yang keren dan pintar ketika mereka bisa punya fitur dan alat yang canggih. Memang alat-alat yang canggih sangat dibutuhkan oleh manusia tapi bukan untuk bersaing dalam hal gengsi atau pamer melainkan untuk bersaing dalam hal ilmu pengetahuan atau wawasan.
Selain barang-barang elektronik masyarakat sekarang juga gemar  dalam bidang transportasi seperti halnya pembelian sepeda motor dan mobil pribadi yang kian pesat , keadaan ini di picu karena para investor otomotif tidak dikendalikan oleh pemerintah, mereka dengan leluasa menjual produk mereka kepada masyarakat. Masyarakat yang awalnya sering berpergian dengan jalan kaki dan angkutan umum beralih ke kendaraan pribadi baik itu sepeda motor maupun mobil, akhirnya masarakat merasa mudah untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan.
Semakin mudah untuk mendapatkan sesuatu semakin kecil juga usaha yang dikeluarkan memang keadaaan ini mungkin wajar dikalangan orang dewasa namun tidak kawatirkah buat anak-anak muda sekarang. Jika mereka sejak kecil sudah diajarkan mudah mendapatkan sesuatu maka ketika dewasa mereka akan terbiasa hidup dibalik kemudahan dan sulit untuk menganalisa makna atupun hikmah dibalik sebuah usaha untuk mendapatkan sesuatu atau tujuan, keadaan ini juga dipicu pengaruh kebudayaan televisi dan internet yang hedonisme.
Melihat hal tersebut apa yang harus kita lakukan? Kita sebagai generasi penerus bangsa harusnya memperhatiakan hal-hal tersebut budaya-budaya instan, hedonis, dan konsumerisme harus dihilang terlebih kepada anak-anak bangsa. Focus yang harus ditekankan adalah tidak hanya soal pendidikan yang harus dibenahi dengan materi-materi moral dan etika yang tidak hanya berpangku kepada intelejend, akan tetapi juga kebiasaan masyarakat yang selalu berubah seperti media komunikasi dan transportasi. Banyak media sosial di Indonesia yang menayangkan dan menampilkan suguhan sampah kepada kalayaknya. Pemerintah seharusnya lebih menekankan pembenahan pada sumber permasalahan yakni kurangnya mental masyarakat Indonesia untuk menghadapi persaingan di dalam kehidupan akibat dari pengaruh media dan teknologi.


0 komentar:

Post a Comment

 
Suara Madura © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top