Orang
tua Aktor sekaligus Eksekutor
Oleh: Sepri
Ayu. F*
Beberapa minggu
terakhir ini, kita dikejutkan dengan pemberitaan meninggalnya Nur Anggrah (8).
Siswa kelas II SD itu meninggal lantaran berkelahi dengan temannya hanya
gara-gara korban melontarkan bully-an
“gendut dan babon” pada temannya. Pertengkaran itupun berujung maut. Kasus yang
hampir sama juga dialami Renggo Khadafi (11), Renggo sendiri merupakan siswa SD
Negeri 09, Kampung Makasar, Jakarta Timur. Renggo meninggal diduga dipukuli
oleh tiga kakak kelasnya.
Sering kali kita melihat anak-anak sekolah
mem-bully temannya, kita tidak begitu
awas dan malah mangacuhkan saja. Anggapan yang muncul malah hal itu biasa dan
kelakar anak-anak saja. Namun, adanya kasus semacam ini tak telak lagi telah
menampar kita sebagai orang yang lalai.
Begitu mudahnya gejolak
amarah anak-anak SD dalam menyikapi perkataan temannya. Hal ini patut kita
sikapi lebih dalam. Seperti yang dikatakan Kak Seto, “Anak-anak itu adalah
korban. Anak-anak adalah peniru yang baik seperti meniru dari tontonan film,
lingkungan keluarga atau lingkungan bermainnya. Mungkin dia mendapati tekanan
berat. Bisa juga karena tekanan padatnya jadwal pelajaran, guru galak atau bullying.”
Peran orang tua sangat
berpengaruh terhadap perkembangan dan perilaku anak. Sebab, anak belajar dari
lingkungan yang paling dekat dengannya, dimulai dari keluarga. Orang tua harus
mendidik anak dengan baik. Banyak hal dapat dilakukan para orang tua, misalnya;
Meluangkan
waktu untuk mereka. Anak-anak butuh perhatian dan
kasih sayang orang tua. Mereka mau didengarkan. Jika ada waktu luang, ada
baiknya menghabiskan waktu bersama. Jangan terlalu sibuk sebagai orang tua.
Orang tua yang terlalu sibuk dan jarang meluangkan waktu bersama anak-anak,
ditakutkan anak akan merasa kesepian dan malah mencari hiburan di luar.
Apalagi, pengaruh teman-teman yang kurang baik dapat mempengaruhi mental dan
psikologinya.
Mengenali
anak. Kita jangan sampai leha dalam hal ini.
Adalah hal buruk bagi orang tua jika orang lain yang lebih paham tentang
anak-anaknya. Anak akan menganggap kita sebagai orang asing. Bahkan ada anggapan
di masyarakat, keluarga sendiri seperti
orang lain, orang lain malah seperti keluarga sendiri. Jangan sampai hal
ini terjadi.
Menerapkan
aturan yang logis. Kita boleh-boleh saja memberikan
aturan sehari-hari pada anak. Tapi ingat, jangan menjadi orang tua yang
otoriter. Anak akan menghormati orang tuanya jika mereka ikut menegosiasikan
segala sesuatunya. Orang tua yang terlalu otoriter, terlalu memaksakan
kehendak, akan membuat anak takut pada orang tuanya. Padahal, orang tua bukan
orang yang seharusnya ditakuti.
Melakukan
diskusi. Ajaklah anak-anak untuk bersantai
sejenak, lalu bicarakan secara terbuka apa yang sedang dialami anak-anak di
sekolah atau dalam pergaulannya. Hal ini akan menumbuhkan hubungan yang baik
antara anak dan orang tua. Anak akan lebih terbuka pada orang tuanya. Tidak
akan ada lagi istilah anak introvert bagi
orang tua. Anak-anak yang tertutup juga akan membingungkan orang tua, sebab
mereka menutup diri dari segala sesuatunya. Diskusi bisa dilakukan di mana
saja, di ruang tamu, di ruang makan, bahkan saat sedang melakukan aktifitas
harian di rumah.
Memberikan
dukungan dan pujian. Anak sangat menginginkan dukungan
dari orang tuanya yang pertama. Jika hal ini sudah mereka dapatkan, mereka akan
senantiasa semangat dalam menjalani apa yang mereka inginkan. Berikanlah pujian
jika mereka melakukan hal yang benar. Semisal mereka mendapatkan nilai yang
baik di sekolah, berilah mereka reward
semacam penghargaan kecil-kecilan yang akan menumbuhkan semangat
belajar-mengajarnya di sekolah. Jika anak melakukan kesalahan, berikan nasehat
serta masukan bagaimana seharusnya melakukan sesuatu. Jangan terlalu senewen dan memarahi anak-anak. Jika
mereka didekati dengan cara yang benar dan mereka merasa nyaman, mereka akan
terbuka dan masalah yang sedang mereka hadapi dapat ditangkap oleh orang tua.
Itulah cara problem solving yang baik
dan benar.
Orang tua harus jeli
dalam mengawasi anak-anak mereka sejak dini agar dikemudian hari tidak terjadi
hal yang sama, seperti kasus yang baru saja terjadi belakangan ini. Perhatikan
gerak-gerik anak, jika merasa ada yang salah, ajaklah mereka bicara.
Tak hanya peran orang
tua, sekolah juga turut berperan dalam mengontrol perkembangan dan tingkah laku
anak didik. Sebab, sekolah
merupakan lingkungan kedua bagi anak, rumah kedua bagi mereka.
*Penulis
merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Trunojoyo Madura, Pustakawan,
serta anggota LPM Fanatik.

0 komentar:
Post a Comment