Makna
Filosofis Tahun Baru Hijriyah
Oleh: Riris Aditia N*
Secara historis, tahun Hijriyah
dimulai pada masa Umar bin Khattab menjabat sebagai kepala negara Madinah. Pada
saat itu, orang-orang Arab belum
memiliki kalender Islam seperti sekarang. Sehingga, Umar bin Khattab
mengumpulkan para tokoh di Madinah untuk membuat kalender Islam.
Akhirnya disepakati bahwa tarikh Islam
dimulai dari tahun hijrah Rosulullah ke Madinah. Momentum ini bertepatan dengan
pisahnya negeri syirik (Mekkah) menjadi mukmin (Madinah). Kalau saja kita mau
merenung sejenak, banyak makna filosofis dibalik latar historis tahun Hijriyah.
Salah satunya adalah peristiwa hijrah Rosulullah.
Selama ini, masyarakat muslim jarang
memberikan perhatiannya pada tahun baru Hijriyah. Kalau pun ada, perhatian
tersebut sebatas euforia dalam bentuk perayaan seremonial. Termasuk pada tahun
baru 1437 Hijriyah kali ini. Masyarakat kita lebih tertarik pada kegiatan
euforia daripada memaknai momen ini secara filosofis.
Euforia perayaan tahun baru Hijriyah
dapat kita saksikan mulai dari acara pagelaran seni hingga pengajian umum. Di
Sampang misalnya, tahun ini akan diadakan pawai Islam disertai kumandang
sholawat nabi. Di Jawa terdapat acara
tahunan seperti grebeg suro, upacara
adat kebo-keboan di Banyuwangi, serta tradisi larung sesaji dan petik laut di
Probolinggo.
Makna Filosofis
Berkaca pada latar historis tahun
Hijriyah, secara praktis sebenarnya kita telah memahami: bahwa tahun baru
adalah momen untuk menjadi manusia yang lebih baik. Bergantinya tahun dapat
menandai peningkatan kualitas akhlak kita di hadapan Allah maupun sesama
manusia. Sebagaimana hijrah Rosulullah dari Mekkah ke Madinah dulu; dari negeri
kufur menuju negeri mukmin.
Hijrah adalah peristiwa penting dalam
sejarah perkembangan Islam. Hijrah menjadi tonggak kebangkitan Islam dan
mengandung nilai-nilai revolutif, seperti: semangat juang, persaudaraan, dan
optimisme perubahan.
Salah satu kelemahan peringatan tahun
Hijriyah selama ini adalah kurangnya internalisasi nilai-nilai filosofis tahun
baru. Beragam acara yang digelar cenderung mubadzir
dan berbau hedonis. Akibatnya, masyarakat terlena pada keramaian acara, dan
lupa meluangkan waktu khusus untuk melakukan instropeksi diri.
Perlu cara pandang baru dalam
memperingati tahun baru Hijriyah. Dalam hal ini bukan berarti penghilangan
acara tahunan yang sudah ada, melainkan perlu adanya internalisasi nilai-nilai
filosofis pada setiap acara yang digelar.
Sedikitnya terdapat tiga makna
pergantian tahun yang dapat kita petik dari peristiwa hijrah Rosulullah. Makna
tersebut antaralain Hijrah Insaniyah,
Hijrah Tsaqafiyyah, dan Hijrah
Islamiyah. Ketiga makna ini dapat kita aplikasikan dalam kehidupan
sehari-hari, terutama ketika memperingati pergantian tahun seperti sekarang.
Pertama, Hijrah Insaniyah. Hijrah ini dimaknai
sebagai transformasi nilai-nilai kemanusiaan. Ketika manusia saat ini cenderung
individualis, hijrah insaniyah mengingatkan
kita untuk senantiasa peduli terhadap sesama. Misalnya, memperingati tahun baru
dengan cara menggalang dana bakti sosial, peduli korban asap Riau dan
sekitarnya, atau menyantuni anak yatim.
Pada zaman nabi Nuh, beliau menggunakan
sisa makanan pelayaran untuk dijadikan bubur. Lalu, beliau mengajak umatnya
untuk menyedekahkan bubur tersebut kepada warga sekitar. Kebiasaan inilah yang
kemudian diadopsi orang Jawa setiap bulan Muharram (Suro), yaitu membagikan bubur suro
kepada tetangga.
Daripada menggelar pertunjukan seni
besar-besaran, tradisi bubur suro sepertinya
adalah pilihan yang lebih baik. Namun,
sekali lagi perlu dimaknai secara filosofis: bahwa bubur tersebut digunakan
untuk sedekah, bukan menghamburkan uang atau berlaku riya’.
Kedua, Hijrah Tsaqafiyyah. Hijrah ini berarti berubahnya budaya jahiliyah
menuju madaniyah. Di tengah berkembangnya budaya hedonis dan kapitalis saat
ini, kita perlu mengubah sistem nilai sehari-hari kita menuju budaya madani.
Budaya madani bukan berarti konservatif
dan menutup diri dari perkembangan dunia. Namun, modernisasi dan perkembangan
teknologi mutakhir perlu dibarengi dengan aktualisasi nilai-nilai keislaman dan
akhlaqul karimah.
Ketiga, Hijrah Islamiyah. Artinya, peralihan kepasrahan pada Allah secara
total. Perkembangan dunia yang begitu dinamis telah membutakan fokus hidup
kita: sebenarnya untuk apa kita dilahirkan? Kenikmatan duniawi telah menyita
seluruh perhatian sehingga tidak ada tempat untuk sekadar mengingat Tuhan.
Momentum tahun baru Hijriyah adalah
waktu tepat guna melakukan rapor diri. Menilai sejauh mana iman kita pada
Allah, serta membandingkan seberapa banyak kita menggunakan waktu untuk urusan
duniawi.
Allah telah berfirman dalam surat al-Furqan
ayat 62 yang artinya, “Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih
berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin
bersyukur.”
Dari ayat tersebut,
Allah telah menempatkan waktu sebagai masa untuk belajar: bahwa hari ini harus
lebih baik dari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini.
Sehingga, momen tahun baru juga tepat untuk menilai:
sudahkah tahun ini lebih baik daripada tahun kemarin?
Kita sendirilah yang tahu berapa besar nilainya. Kalau
pergantian tahun sekarang hanya diisi dengan euforia perayaan belaka, apa
bedanya rapor kita tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya? Tentu kita tidak
ingin pergantian tahun hanyalah perubahan angka-angka: dari 1435 menjadi 1436,
lalu sekarang menjadi 1437, dan seterusnya. Dari sinilah penting untuk memahami
makna filosofis tahun baru Hijriyah.
*Mahasiswa Ilmu Komunikasi,
Universitas Trunojoyo Madura. Aktif berorganisasi di LPM Spitit Mahasiswa.

0 komentar:
Post a Comment