Bully Membunuh Karaktermu
Oleh: Annisya Mey Lina


Bullying merupakan suatu bentuk perilaku agresif yang diwujudkan dengan perlakuan secara tidak sopan atau kasar dan penggunaan kekerasan atau paksaan untuk mempengaruhi orang lain, yang dilakukan secara berulang atau berpotensi untuk terulang, dan melibatkan ketidakseimbangan kekuatan dan atau kekuasaan. Bullying juga didefinisikan sebagai kekerasan fisik dan psikologis jangka panjang yang dilakukan seseorang atau kelompok terhadap seseorang yang tidak mampu mempertahankan dirinya dalam situasi dimana ada hasrat untuk melukai atau menakuti orang itu atau membuat dia tertekan. Perilaku ini dapat mencakup pelecehan verbal, kekerasan fisik atau pemaksaan, dan dapat diarahkan berulangkali terhadap korban tertentu, mungkin atas dasar ras, agama, gender, seksualitas, atau kemampuan. Bullying terjadi bukan karena kemarahan, atau karena adanya konflik yang harus diselesaikan. Di Indonesia banyak sekali kejadian yang kurang mengenakkan seperti ini dan berulang-ulang terjadi. Perbuatan ini seharusnya tidak patut untuk ditiru karena akan berdampak negatif bagi si korban seperti traumatik. Padahal sudah banyak memakan korban akibat perbuatan tercela ini, dari anak-anak, remaja, dan orang dewasa. Isi berita di televisi maupun surat kabar akhir-akhir ini kasus Bullying mendapat sorotan tajam dari berbagai kalangan, karena sudah menjurus ke dunia pendidikan.

Bentuk penindasan ini sering terjadi disekolahan dan di kampus, saat ada siswa atau mahasiswa baru. Yang mengalami kasus ini siswa atau mahasiswa baru biasanya dibully oleh kakak senior atau kakak tingkatnya, teman sekelas, teman seumuranatau bahkan juga dibully oleh guru atau dosennya sendiri sehingga ini menjadikan beban untuk mereka yang mengalaminya. Bahkan belakangan ini bullying juga mulai marak dipublish melalui media sosial (cyber-bullying). Banyak berbagai adegan yang ditonjolkan, seperti pukulan, jambakkan, tendangan dan cacian yang diberikan si pembully untuk korbannya itu sangatlah tidak pantas untuk ditiru. Kebiasaan yang sering kita lihat bahwa adegan pembullyan ini beredar di sosial media seperti youtube, facebook, dan twitter.

Bullying menciptakan lingkaran setan bagi korban dalam kehidupan sosial mereka.Dalam upaya untuk melindungi diri dari situasi bullying, mereka seolah akan sulit menjadi dewasa.Mereka akan berusaha untuk mengatasi masalah mereka sendiri dan mereka mengerti akibatnya. Karena keterampilan “mengatasi” mereka tidak cukup berkembang pada usia ini, maka ketika menghadapi situasi bullying yang rumit, mereka mulai menginternalisasi masalah dan mengembangkan rasa tak berdaya. Hal ini bisa mengakibatkan gangguan depresi dan kecemasan. Jika dibiarkan, kecemasan ini bahkan bisa mulai merasuki dirinya menjadi gangguan makan, paling sering hal-hal yang menakutkan terutama pada korban perempuan. Kadang-kadang ketika si anak tidak tahu bagaimana cara menangani emosi yang mereka alami, mereka mungkin mulai mengalami gejala psikosomatik ini adalah hasil dari emosi yang diwujudkan dalam kondisi fisik. Hal ini bisa dengan mudah menjadi pemicu untuk kejadian intimidasi di masa depan.

Dampak cyber bullying ketika remaja mereka menonton YouTube, bermain game, atau mencari sesuatu di internet. Banyak sekali situs yang tidak sesuai dengan usia mereka yang akan mereka temukan. Ada situs yang ditargetkan untuk anak-anak diusia ini, di mana mereka bisa memainkan beberapa game dan chatting. Mereka juga bisa mulai meng-upload gambar pada usia ini ke beberapa situs yang dibuat untuk remaja. Orang tua harus tahu persis, mana situs untuk anak-anak dan tahu persis apa yang mereka upload. Anak-anak pada usia ini sudah bisa menulis teks dan mengambil foto dengan ponsel mereka. Jaringan sosial adalah sesuatu tempat dimana mereka bisa menerima atau menulis sesuatu pesan, dan potensi penyalahgunaan bisa dimulai dengan kegiatan ini. Remaja tidak selalu mengerti bagaimana perilaku anonim(orang tak dikenal) dapat mempengaruhi orang-orang. Mereka masih membutuhkan beberapa tahun sebelum mereka bisa memahami implikasinya secara penuh, bahkan jika usia remaja mereka  tahu perbedaan antara mana yang benar dan yang salah. Dan kejadian ini bukan hanya korban dan tersangka yang melihat dan merasakan ternyata disekitaran mereka terdapat orang-orang yang melihat kejadian itu seperti video-video yang ada di youtube.Kebanyakan orang memilih untuk bersikap cuek saat bullying terjadi. Terkadang, mereka memilih untuk membiarkan, bukan karena mereka tak ingin membantu membela, namun karena setelah dipertimbangkan, membela teman yang di-bully bisa jadi berisiko bagi diri mereka. Memang ada benarnya, para bully bisa jadi sangat berbahaya bila ditentang. Alih-alih membela kebenaran, bisa-bisa kita malah menjadi bahan permainan baru bagi mereka.ada cara-cara aman yang dapat kamu lakukan untuk membantu temanmu yang di-bully tanpa harus terang-terangan berhadapan dengan para bully.


Begitu traumanya, tak sedikit korban yang memilih mengakhiri hidupnya (bunuh diri) karena saking sakit hati dan tak tahan terhadap perlakuan bullying tersebut. Perlu kita cermati karena tak ada seorang pun punya hak dan alasan untuk membullying orang lain. Serta tak ada seorang pun yang layak menjadi korban bullying.Ingat bahwa salah satu Efek Psikologis Bullying yang ditakuti adalah bunuh diri. Hentikan efek bullying terjadi kepada anak-anak kita, dan bergabunglah dengan gerakan melawan bullying.

*Penulis adalah Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya Universitas Trunojoyo Madura asal Driyorejo, Gresik

0 komentar:

Post a Comment

 
Suara Madura © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top