365 Hari Jokowi, Rakyat Masih Gigit Jari

Oleh: Dwiky Septiya Wulandari
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Trunojoyo Madura


Pada tanggal 20 Oktober 2015 kemarin, pemerintahan Jokowi-JK genap berusia satu tahun. Terhitung mulai dari pelantikan Presiden dan Wakil Presiden ke-7 Republik Indonesia pada tanggal 20 Oktober 2014 lalu. Potret masyarakat Indonesia selama setahun ini nyatanya masih banyak yang menggigit jari. Nawacita yang pernah digaungkan oleh Presiden Joko Widodo saat kampanye di pemilihan Presiden 2014 belum terealisasikan dengan sempurna, bahkan dianggap gagal oleh beberapa pihak. Nawacita tersebut berisi tentang sembilan cita-cita Presiden Jokowi-JK berhasil dirangkum oleh situs www.kpu.go.id, yaitu:
Pertama, menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberi rasa aman pada seluruh warga negara, melalui politik luar negeri bebas aktif, keamanan nasional yang terpercaya dan pembangunan pertahanan negara Tri Matra terpadu yang dilandasi kepentingan nasional dan memperkuat jati diri sebagi negara maritim.
Kedua, membuat pemerintah tidak absen dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya, dengan memberikan prioritas pada upaya memulihkan kepercayaan publik pada institusi-institusi demokrasi dengan melanjutkan konsolidasi demokratis melalui reformasi sistem kepartaian, pemilu, dan lembaga perwakilan.
Ketiga, membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.
Keempat, menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya.
Kelima, meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan dengan program “Indonesia Pintar”, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan program “Indonesia Kerja” dan “Indonesia Sejahtera” dengan mendorong land reform dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa lainnya.
Keenam, meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa lainnya.
Ketujuh, mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestic.
Kedelapan, melakukan revolusi karakter bangsa melalui kebijakan penataan kembali kurikulum pendidikan nasional dengan mengedepankan aspek pendidikan kewarganegaraan, yang menempatkan secara proporsional aspek pendidikan, seperti pengajaran sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotism dan cinta tanah air, semangat bela negara dan budi pekerti di dalam kurikulum pendidikan Indonesia.
Kesembilan, memperteguh kebhinnekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia melalui kebijakan memperkuat pendidikan kebhinnekaan ruang-runag dialog antarwarga.
            Kegagalan Jokowi dalam menjalankan Nawacita selama setahun ini, membuat elemen masyarakat kecewa. Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Siti Zuhro menuturkan kekecewaannnya dalam diskusi di Tebet, Jakarta Selatan Minggu (5/7/2015) ”tadinya saya sangat positif revolusi mental yang digadang Pak Jokowi dan semangat Nawacita. Saya sampaikan LIPI harus merespon Nawacita, tapi setelah itu, kemana Nawacita ini?” tuturnya (dikutip dari suara.com). Awalnya Siti Zuhro sangat apresiatif terhadap program Nawacita, tetapi sekarang ia mulai kecewa karena nawacita tidak juga direalisasikan oleh Presiden Jokowi melalui menteri-mentrinya. Selain itu banyak opini masyarakat yang menganggap pemerintahan Presiden Jokowi selama setahun ini dinilai gagal dan mendapat raport merah. Masyarakat kecewa atas kinerja Presiden Jokowi-JK. Aksi tegas juga dilakukan oleh seluruh Presiden Mahasiswa dari anggota Aliansi BEM seluruh Indonesia di Tugu Prokalamsi, Jakarta pada hari Selasa (20/10). BEM seluruh Indonesia akan melakukan press conference dan deklarasi sikap mahasiswa terhadap pemerintah Jokowi-JK sebagai bentuk refleksi bahwa terdapat penyimpangan dengan Indonesia hari ini, dari apa yang telah ditetakan oleh Proklamator dan para Founding Fathers. Pada peringatan Sumpah Pemuda mendatang 28 Oktober 2015 di depan Istana Negara BEM, Mahasiswa dan seluruh rakyat Indonesia melakukan sidang rakyat untuk memberikan tuntutan yang harus segera dilaksanakan oleh Jokowi-JK.
            Sederet peristiwa juga telah mewarnai setahun masa Pemerintahan Presiden Jokowi-JK yang membuat rakyat Indonesia terutama rakyat tingkat ekonomi lemah merasa semakin tercekik. Belum genap satu bulan Pemerintahan Presiden Jokowi-JK telah mengikrarkan kenaikan BBM tepatnya pada 17 November 2014. Meski aksi ini sempat menurunkan BBM dua kali menjadi Rp 6600/liter, pemerintah kembali menaikkan harga BBM 200/liter menjadi Rp 6800/liter. Kemudian pada tanggal 28 Maret 2015 pemerintah kembali menaikkan harga BBM untuk ketiga kalinya sebesar Rp 500/liter menjadi Rp 7300/liter.
            Aspek lain yang membuat rakyat merasa semakin tercekik dan hanya bisa menggigit jari dengan segala gemelut aksi pemerintahan presiden Jokowi-JK adalah PHK semakin menjadi-jadi. Hal ini merupakan imbas dari melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar yang semakin hari semakin mengkhawatirkan dan mencapai titik terendah, sedangkan jika pemerintah diam saja dan tidak mengatasi ini maka yang menjadi korban adalah banyak pegawai yang di PHK. Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menghitung sampai saat ini jumlah PHK mencapai 100.000 pekerja.  Lalu bagaimana nasib rakyat Indonesia yang berpendidikan lemah, ekonomi lemah, dan Korban PHK? Apakah mereka menjadi pengangguran sejati untuk Indonesia? Kemana Nawacita yang digaungkan sejak kampanye dulu?

            Dari evaluasi selama satu tahun pemerintahan Jokowi-JK ini, penulis berharap pemerintah segera memperbaiki segala aspek kehidupan rakyat Indonesia. Salah satunya dengan merealisasikan Nawacita sesuai dengan janji saat kampanye dulu agar tidak seperti tong kosong nyaring bunyinya. Semoga. 

0 komentar:

Post a Comment

 
Suara Madura © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top