Fuad Nangis Merengek Minta Dituntut Ringan
 Alasannya, Masih Menanggung Dua Isteri dan Belum Membagi Warisan 
BANGKALAN-Ruang sidang Pengadilan Tipikor Jakarta, menjadi layaknya tempat syuting adegan sinetron melow. Dalam sidang lanjutan dugaan korupsi mantan Bupati Bangkalan dua periode Fuad Amin Imron, diwarnai tangis. Dalam sidang dengan agenda pemeriksaan terdakwa, Fuad tak henti bercerita sambil menangis, menceritakan masa kecilnya, yang katanya sangat menyedihkan. Dan, ujungnya merengek minta agar jaksa penuntut umum (JPU) menuntutnya dengan hukuman ringan.
 Terdakwa kasus dugaan jual beli gas alam di Bangkalan, Madura dan tindak pidana pencucian uang itu, beralasan kalau dia masih memiliki tanggungan keluarga yang cukup banyak.
’’Saya berharap agar jaksa menuntut saya dengan hukuman seringan-ringannya, karena saya ada tanggungan dua isteri," rengek Fuad. 
Lebih-lebih, sambungnya, saat ini dia juga belum membagi-bagikan warisan kepada anggota keluarganya.”Warisan yang saya bagikan masih belum tuntas meskipun famili-famili saya yang 170 itu tidak ada yang komplain kepada saya," dalih Fuad Amin. 
Dalam sidang pemeriksan terdakwa itu, Fuad juga menyampaikan permintaan maafnya kepada seluruh masyarakat Bangkalan.
Mohon dimaafkan segala kekeliruan yang terjadi, karena leluhur saya orang terhormat dan saya sekarang duduk di sini sebagai terdakwa. Saya mohon dimaafkan, ucap Fuad sambil menangis tersedu. 
Dia mengaku malu dan mendapatkan tekanan batin dengan kondisinya saat ini. ’’Saya merasa ingin menyelesaikan kewajiban saya kepada keluarga. Saya paling tua di bani (keturunan) saya, sambung Fuad Amin sambil terus mengusap airmatanya.
Tangis Fuad makin menjadi, ketika dia menceritakan masa lalunya. Kisahnya dimulai ketika dia ditinggal sang ibu. Waktu itu usianya baru menginjak 2 tahun.
Ia menuturkan, sejak berpisah dengan ayahnya Kyai Amin pada 1950, sang ibu memilih untuk tinggal di Mekah, Saudi Arabia dan menikah dengan orang Indonesia yang telah menjadi warga negara di sana.
Saya kecil, orang tua sudah pisah. Waktu itu umur 2 tahun. Kalau tidak salah setelah pemilu pertama ibu saya pergi ke Mekah dan menikah dengan orang Indonesia yang sudah jadi warga sana, ujar Fuad.
Dengan terus menangis, Fuad mengaku menerima warisan dari keluarga ibunya yang sempat memiliki rumah dan tanah di Mekah. Tanah dan bangunan milik ibunya tersebut lalu dibeli oleh pemerintah Saudi Arabia dengan harga yang tinggi. Karena posisinya berada di Ma'la kawasan pemakaman istri Nabi Muhammad, Khadijah.
Rumah itu dapat pergantian dari pemerintah Arab. Ibu saya tidak punya anak lagi dari suaminya. Dan warisan itu diberikan ke saya waktu ibu saya meninggal, tutur dia.
Namun, Fuad tidak dapat menjelaskan secara detil berapa jumlah uang yang diterimanya dari warisan sang ibu. "Uangnya banyak. Saya lupa. Yang saya ingat itu ada di tas sangat besar. Kalau diangkat sama 2 orang itu nggak bakal mampu terangkat," jelas dia.
Cerita kisah sedih masa lalunya itu, dipaparan Fuad denga tujuan menjelaskansumber harta yang sangat banyak. Menurut Fuad, sejak kecil ia tidak pernah kekurangan. Karena dia diangkat anak oleh anak pamannya, Kyai Munir yang menjadi salah satu sahabat Bung Karno di Partai Nasional Indonesia (PNI).
Waktu ibu saya pisah, saya diambil Kyai Munir. Beliau meninggal itu saya diberikan lempengan perak dan emas dari zaman Belanda itu banyak. Ada 1 lemari. Saya jual saja, saya dari kecil tidak pernah kekurangan. Sepupu saya ada 170 orang, mereka percayakan sama saya, tidak ada yang protes. Sampai sekarang ditahanan saya makan dari situ, tutur dia.
Selain harta warisan dari keluarganya ini, Fuad juga mengaku kekayaannya tersebut diperoleh dari sumbangan masyarakat pada acara haul kakeknya, Mbah Kyai Cholil yang digelar setiap tahun.  ”Kalau acara Haul itu setiap malam takbiran, paling tidak 10 ribu orang yang menyumbang. Mereka itu menyumbang dari mulai Rp 10 ribu sampai juga ada yang 10 juta. Dan pengelolaannya ini diserahkan ke saya, aku Fuad.
Disela ceritanya, Fuad sempat terdiam. "Saya tidak sanggup mengingat ini, pungkas Fuad, sambil mengusap airmatanya, dan meninggalkan ruang sidang, meminta ijin untuk ke toilet. (ris/aan)

0 komentar:

Post a Comment

 
Suara Madura © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top