Urugensi Pendidikan Bahasa Madura di Sekolah
Oleh: Anna Rustina*
Indonesia
adalah negara yang kaya akan budaya dan bahasa dalam setiap daerahnya. Dari
sabang sampai merauke sebuah istilah yang digunakan untuk menjelaskan
beragamnya keindahan budaya di Indonesia. Bahasa menjadi hal yang mutlak untuk
berkomunikasi dengan satu sama lain. Dengan adanya bahasa, setiap pesan yang
ingin disampaikan kepada seseorang dapat tersampaikan dengan baik.
Bahasa
Madura merupakan salah satu bahasa daerah yang memberikan nilai tambah dan keunikan
dari Indonesia. Bahasa ini menjadi terkenal dengan ciri khas “Tak Iyeh”, dengan
satu kata tersebut membuat bahasa Madura menjadi lebih indah dan unik. Banyak
orang dari daerah luar yang ingin mempelajari bahasa Madura, semua itu karena
keindahan dan keunikan dari bahasa ini. Semakin adanya perkembangan zaman dan
teknologi yang semakin canggih. Penggunaan bahasa daerah yang baik dan benar
semakin berkurang, hal itu juga terjadi dalam wilayah Madura. Pergeseran
penggunaan bahasa Madura mulai tergantikan dengan adanya “Bahasa Indonesia” dan
“Bahasa Alay (Gaul)”.
Tidak
ada salahnya jika kita menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bahasa
Indonesia merupakan bahasa dari negara kita, yang memang mutlaknya harus kita
lestarikan juga. Namun, dibalik penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan
benar, tidak seharusnya melupakan bahasa dari daerah asalnya. Hal ini yang
seharusnya menjadi awal terbentuknya pemikiran kita untuk mengajarkan bahasa
Madura mulai sejak dini di lingkungan keluarga dan masyarakat. Penggunaan
bahasa Madura yang baik dan benar atau sesuai dengan kamus Engghi Bhunten harus juga tepat dalam penggunaannya sesuai dengan
lawan bicara yang kita hadapi.
Bahasa
Alay menjadi sangat populer dalam kalangan masyarakat, terutama di lingkungan anak
muda. Kepopuleran ini seharusnya tidak menjadi hal yang membanggakan bagi
negara Indonesia, karena bahasa yang digunakan mengalami penyimpangan dalam
penulisan dan pengucapannya tidak sesuai dengan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan).
Dengan adanya Bahasa Alay, bahasa
dari masing-masing daerah juga mengalami pergeseran dan jarang digunkan oleh
kalangan anak muda, yang notabennya anak muda merupakan generasi dari penerus
bangsa Indonesia.
Selama
beberapa dekade terakhir, bahasa Madura digunakan dengan sangat baik sesuai
dengan keadaan yang ada di sekitar. Seiring
berjalannya waktu, banyak anak Madura saat berkomunikasi dengan sesamanya
selalu menggunakan bahasa Indonesia dan merasa malu dengan bahasa dari
daerahnya sendiri. Semua itu, diakibatkan adanya rasa gengsi dalam diri mereka.
Bukan hanya itu saja, rasa sopan santun dalam berkomunikasi dengan orang yang
lebih tua juga mulai berkurang. Banyak anak muda di Madura ketika berkomunikasi
dengan orang yang lebih tua dari mereka, menggunakan bahasa Madura yang tidak
sopan (tak abhesah). Jika semua itu tetap berlangsung, maka perlahan-lahan
bahasa Madura akan menghilang dan tergeserkan dengan bahasa-bahasa yang aneh.
Jika
saja dalam diri kita memiliki rasa bangga terhadap bahasa ibu dan timbul
keinginan untuk tetap menjaga kebudayaan kita, hal seperti ini tidak akan
terjadi. Contohnya: ketika kita berkoomunikasi dengan sesama orang maduranya
selalu menggunakan bahasa Madura, itu merupakan langkah awal kita untuk
melestarikannya. Sehingga, orang lain yang berasal dari daerah luar yang
melihatnya akan menimbulkan rasa keingintahuan dan mencoba untuk memahami serta
mempelajari bahasa Madura.
Dalam
dunia pendidikan, bahasa Madura telah kita pelajari saat masih duduk di SD
(Sekolah Dasar) dan SMP (Sekolah Menengah Pertama). Meskipun hal tersebut telah
menjadi kemajuan bagi kebangkitan dalam melestarikan budaya Madura, masih belum
banyak hasil positif dari hal tersebut. Dan, apa kabar dengan bahasa madura
dalam dunia SMA?. Mungkin, hal ini yang menyebabkan masih adanya beberapa anak
Madura yang tidak mengetahui bahasa ibu dan mulai perlahan melupakannya.
Masa-masa
SMA (Sekolah Menengah Atas) merupakan wilayah yang sangat berbahaya dalam
perkembangan anak dan pembentukan karakternya. Semua orang bilang bahwa
masa-masa SMA merupakan masa yang paling indah, semua itu dikarenakan saat itu
anak muda mengalami pubertas dan konteks wilayah pergaulannya juga semakin
meluas.Jika, mata pelajaran bahasa Madura dihilangkan pada tingkatan mereka,
hasilnya budaya dan bahasa Madura mulai perlahan-lahan akan terkikis dan
tertimbun oleh budaya-budaya dari luar.
Kekhawatiran
tentang hilangnya budaya dan bahasa Madura perlahan-lahan mulai berkurang. Dinas
pendidikan daerahMadura, mulai memberikan perubahan yang nyata untuk
mempertahankan budaya dan bahasa Madura. Implementasi kurikulum 2013 tentang
mata pelajaran “Mulok Bahasa Daerah (Jawa dan Maura), berdasarkan surat edaran
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah
No. 424.13242 bertanggal 23 Juli 2013, berisikan muatan lokal bahasa
Jawa di Jawa Tengah. Serta menurut peraturan Gubernur Jawa Timur No. 19 Tahun
2014 tentang mata pelajaran bahasa daerah sebagai muatan lokal wajib di Sekolah
dan Madrasah. Dengan demikian, setidaknya kita telah menutupi beberapa faktor yang
alasan generasi Madura tidak menggunaakan bahasa kelahirannya. Semoga saja
dengan adanya program pembelajaran yang baru, benar-benar memberikan nilai
kemajuan bagi daerah Madura. Sehingga, dapat membuat bahasa dan kebudayaan dari
Madura tetap dilestarikan serta tidak tergeserkan oleh perkembangan teknologi. Dengan
adanya hal tersebut, akan membuat anak-anak Madura tidak cenederung lagi
menjadi orang asing di daerahnya sendiri. Bahkan beberapa pihak terutama
sesepuh dari Madura mengharapkan, jika bahasa Madura suatu saat tidak hanya
berada dalam jenjang SD, SMP, dan SMA, tetapi juga pada jenjang perguruan
tinggi. Bias saja dengan
membuat sebuah
jurusan khusus untuk mempelejarai serta memperdalami budaya dan bahasa Madura.
*Penulis adalah Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Trunojoyo Madura asal Jl. Kenanga No. 06 Sampang, Madura.

sip
ReplyDelete