Pudarnya
Aura Pendidikan Islam di Madura
Oleh: Dwiky
Septiya Wulandari
Mahasiswi (Prodi Ilmu Komunikasi semester 5
Universitas Trunojoyo Madura)
Di Indonesia Pendidikan Islam selalu
dikonotasikan dengan pondok pesantren atau madrasah saja. Sedangkan sekolah
yang dibawah naungan Departemen Pendidikan Nasional seperti SD, SMP, SMA dan
sebagainya tidak digolongkan dalam pendidikan Islam. Diakui atau tidak
keberadaan pondok pesantren telah menjadi pilot project oleh tokoh-tokoh
pendidikan Islam di negeri ini. Cermin pendidikan Islam dapat ditemukan di Madura.
Mayoritas penduduk Madura adalah pemeluk agama Islam. Pendidikan Islam telah
mendapat tempat dihati masyarakat luas, mulai dari pondok pesantren, madrasah,
hingga perguruan tinggi yang bernafaskan keislaman banyak ditemukan di Madura.
Seperti Pondok Pesantren Al Amien Prenduan (Sumenep), Darul Ulum Banyu Anyar,
Al-Mujatama’ Plakpak (Pamekasan), Matsaratul Huda Panempan (Pamekasan),
Nahdzatut Thullab (Sampang) dan Pondok Pesantren Syaichona Kholil (Bangkalan)
yang telah termasyur dan memiliki kualitas serta reputasi di masyarakat.
Anggapan masyarakat luar terhadap Madura tetep menjadi benteng kokoh bagi
kehidupan Islam.
Namun, tantangan terbesar saat ini khususnya bagi pendidikan
Islam di Madura adalah geliat era globalisasi yang sudah mencekik aura
pendidikan Islam di Madura. Pondok pesantren diharapkan tidak hanya berdiam sebagai
bangunan yang kokoh, tetapi harus mampu survive melawan era globalisasi.
Bukan arti fisik pondok pesantren yang dipersoalkan, melainkan pelaku
pendidikan yang ada didalamnya baik dari pengasuh, kepala madrasah, guru,
asatidz, siswa atau santri maupun manajemen dan elemen lainnya secara
koherensif. Keberadaan pondok pesantren telah membuktikan sumbangsih dalam dunia
pendidikan. Selaras dengan tujuan bangsa Indonesia yang tertera dalam pembukaan
UUD 1945 alinea ke-4 yaitu dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa (termasuk
menyelamatkan mental-spiritual anak bangsa).
Hal yang paling mendasar dalam memicu pudarnya aura
pendidikan Islam di Madura adalah bergesernya nilai-nilai keislaman dalam kehidupan
sehari-hari serta hilangnya nilai keikhlasan yang semestinya abadi dalam
pendidikan Islam. Pendidikan Islam saat ini hanya menjadi pendidikan yang hanya
berlabel islam, namun nilai-nilai dasar keislamannya mulai kabur atau dengan
kata lain pendidikan islam kini tidak islam lagi. Adapun beberapa tantangan
global yang memerangi kebudayaan Islam dan kadangkala tampak dalam berbagai
kedok dan kepentingan. Tantangan yang pertama yaitu, Pendidikan Islam di Madura
sedang berhadapan dengan kebudayaan luar yang notabene tidak Islam. Sejak
jembatan Suramadu sudah terealisasikan, bahkan sebelum diaktifkan oleh
pemerintah RI melalui Pemerintah Provinsi Jawa TImur, BASSRA (Badan
Silaturrahmi Ulama Madura) menolak sengit dengan alibi bahwa masyarakat Madura
belum siap dengan tantangan budaya luar itu. Kedua, pendidikan Islam di Madura
masih terpaku pada metode tradisional dan kurang merespon perkembangan zaman
secara memadai. Hal ini dapat dilihat bahwa masih banyak lembaga pendidikan
Islam di Madura yang belum memasukkan pembelajaran pengetahuan umum ke dalam
kurikulumnya. Tantangan ketiga yaitu, kurikulum di sebagian lembaga pendidikan
Islam di Madura masih mengabaikan kebudayaan Islam. Tantangan ke-empat adalah
bahwa lembaga pendidikan Islam hanya bertugas melahirkan tenaga-tenaga
keagamaan yang terampil di masyarakat, sedangkan pembekalan lifeskill dianggap
menjadi tugas lembaga pendidikan umum. Ke-empat tantangan tersebut kini semakin
terpuruk, ketika kebanyakan kyai juga menjadi topfigure dalam pendidikan
Islam melalui keterlibatan dalam urusan politik praktis, dan melalaikan tugas utamanya
sebagai pengelola pendidikan. Bukan berarti kyai tidak boleh berpolitik, tetapi
lebih baik jika kyai mendorong santri memiliki wawasan politik untuk ikut terjun
dalam dunia politik serta memotivasi agar lebih terpacu dalam meraih cita-cita.
Selain ke-empat tantangan tersebut, persoalan lemahnya
manajemen dan pengelolaan pun menjadi salah satu masalah yang dihadapi pendidikan
Islam di Madura. Beberapa indikator lemahnya manajemen antara lain kisruhnya
masalah tunjangan fungsional, penyelewengan Bantuan Operasional Sekolah (BOS),
serta segala hal yang berbau uang di internal lembaga pendidikan Islam.
Sehingga sudah saatnya pendidikan Islam di Madura mulai membenahi sistem
manajememnya. Semata-mata untuk mencapai tujuan pendidikan Nasional, sebagaimana
tertera dalam Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan
Nasional. Tujuan itu adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu,
cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis, serta
tanggung jawab.
Solusi yang dianggap tepat untuk persoalan
pendidikan Islam di Madura ini menurut Ahmed Moofed adalah dengan transformasi
nilai keikhlasan. Nilai keikhlasan ini telah diajarkan Rasul SAW dan
Khalafaurrasyidin dalam proses pendidikan di awal pertumbuhan Islam. Bukan
nilai ikhlas yang berarti “pasarah pada keadaan”. Namun, makna tersebut
telah ditrasnformasikan lebih pada “menerima dan melaksanakan tugas
masing-masing elemen dengan amanah dan penuh tanggung jawab”. Penulis
berharap sosok pengelola seperti kyai dan pengasuh, guru atau ustadz tidak lagi
ngrumpi dan gossip tentang tunjangan fungsional yang tidak cair,
serta tidak perlu membusungkan dada seolah lembaga pendidikan itu miliknya
sendiri. Namun, jika tenaga pengajar ataupun tenaga keamanan dan kebersihan
sekolah melakukan tugasnyab dengan penuh keikhlasan serta dengan dedikasi
tinggi maka seluruh warga sekolah akan sangat merasa nyaman dengan suasana sekolah.
Bila nilai keikhlasan ini telah tertanam dengan baik maka lembaga pendidikan
Islam di Madura tidak lagi berebut siswa melainkan bersiap untuk kebanjiran
siswa. Guru akan dengan sendirinya termotivasi untuk meningkatkan
profesionalitas mengajar para siswa.

0 komentar:
Post a Comment