PENDIDIKAN JUJUR YANG MEMBEBASKAN
Oleh: aziza fadillawilda
            Mahasiswa Prodi ilmukomunikasi universitas trunojoyo Madura



Apa yang dapat mengguncangkan dunia pendidikan prestisius? Ternyata, bukan nilai, bukan pula sarana-prasarana , atau dana, tapi ketidakjujuran. Guncangan karena skandal nyontek justru menunjukkan penyelenggara pendidikan teguh memperjuangkan martabatnya. Kejujuran harga mati, martabat, sekaligus roh pendidikan. Sebaliknya menutup-nutupi fakta ketidakjujur dan beragam dinamika pendidikan manipulatif suatu tindakan pembusukan dunia pendidikan dan penghancurkan bangsa.
Ada banyak alasan mengapa siswa menyontek. Dalam konteks ini, menyontek terjadi karena penyontek tak ada di tempat yang tepat. Siswa harus mempertimbangkan kultur dan dinamika tempat belajarnya agar terhindar dari tekanan terlampau tinggi karena tuntutan pendidikan di luar kemampuannya. Sekolah yang “ bagus dan baik “ belum tentu berguna bagi semua siswa.
Tekanan yang terlalu berat juga terjadi karena tuntutan nilai atau prestasi. Tuntutan itu bisa datang dari orang tua atau lembaga. Sesungguhnya tak terlalu salah menuntut siswa mendapatkan presatasi tinggi asal lembaga pendidikan sunggh-sunguh menekankan dan menghargai proses. Nalarnya, kalau semua proses pendidikan berjalan dengan baik, akuntabel, dan transparan, nilai atau prestasi yang baikakan diraih dengan prestasinya. Sayangnya, pendidikan kita telah mengabaikan proses. Akibatnya sebagian besar pembelajaran di negari ini tak memiliki kepercayaan diri. Kita juga harus merenung dengan jujur: tidakkah dinamika pendidikan yang begitu memuja pencitraan dan beragam tindakan manipulatif hanya akan melahirkan generasi penyontek? Apalagi bila dinamika semacam itu justru difasilitasi dan dimobilisasi lembaga pemerintah. Itu sebuah pelangaran hak asasi manusia yang serius, sistematis, dan kejam, tetapi terjadi dalam sunyi. Labih parah lagi, ini efektif menghancurkan eksistensi bangsa kita karena pada saatnya nanti, negeri ini akan diurus generasi nihil kepercayaan diri.
Pendidikan jujur niscaya akan menjaga eksistensi bangsa ini dalam pencaturan dunia. Pendidikan jujur meniscayakan dinamika pembelajaran yanga akan menekankan dan menghargai proses, trasparan, serta akuntabel. Dinamika pendidikan semacam itu membantu pembelajaran mengalami apa yang oleh Paulo Freire disebut humanisasi.

Dalam humanisasi, manusia dibantui menyadari keterbatasannya denga praktis. Pendidikan yang menekankan dan menghargai prosesmembantu siswa menyadari keterbatasannya hingga sanggup mengatasi situasi yang membatasinys itu,. Karena itu, siswa perlu dibantu memilih institusi belajar yang memiliki kultur  dan dinamika pembelajran yang cocok baginya. Tujuannya agar pembelajaran mampu berproses. Ia mampu nyaman denga dirinya, menentukan target prestasi yang terukur, sreta melakukan dinamika proses pembelajran yang unik untuk mencapai target itu. Pada akhirnya ia terbantu untuk memiliki banyak pengalaman sukses dan melampaui keterbatsan-keterbatasan yang disadarinya. Inilah jalan melahirkan generasi berkarakter yang kreatif dan jujur terhadap apa yang dilakukan.    

0 komentar:

Post a Comment

 
Suara Madura © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top