Kos-kosan Rawan Kejahatan
Oleh: Saman Udin*
Makin banyaknya mahasiswa baru yang berdatangan ke kampus Universitas
Trunojoyo Madura di Telang, Bangkalan, Madura –membuat hunian kos makin banyak
bertumbuh. Dulu saja pada tahun 2013, saat penulis masih berstatus mahasiswa
baru, hunian kos tidak begitu banyak di sekitar jalanan Telang menuju kampus
UTM. Namun kini, bisa kita lihat sendiri kos-kosan mulai padat dan bahkan masih
berlangsung pembangunan hunian kos baru. Dibalik ramainya perkembangan kos-kosan,
terselip kisah menyedihkan, yakni rawannya aksi kejahatan –tindak kriminal.
Rawannya aksi
kriminalitas di sekitar kos-kosan mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura bahkan mulai meresahkan. Dalam
sebulan, setidaknya beberapa motor raib digondol pencuri. Pencurian ini begitu
mulus dilakukan, karena situasi kosan yang sepi dan minimnya pengamanan. Kos-kosan mahasiswa ini rata-rata berpenghuni 2-3
orang per kamar. Kadang ada yang serumah dengan ibu kos, namun ada pula yang
tidak. Pemilik kos hanya datang tiap awal bulan untuk menagih uang kos serta
mengecek kosan saja.
Aksi kejahatan ini punya timing
pula. Biasanya dilakukan pada dini hari saat aktivitas
kampus sudah lengang dan tidak ada mahasiswa yang berkeliaran di jalanan.
Selama ini yang menjadi korban adalah para mahasiswa penghuni kos-kosan tanpa
gerbang sehingga sepeda motor dibiarkan saja dihalaman atau teras rumah. Minimnya
penjagaan di sekitar Jalan Telang merupakan faktor utama penyebab kasus
pencurian marak terjadi. Meski di wilayah kampus UTM banyak satpam berkeliaran,
mereka sebatas mengamankan wilayah kampus dan tidak berjaga-jaga di sekeliling lingkungan kos-kosan
mahasiswa yang berjarak satu kilo saja.
Mahasiswa sangat
mengeluhkan kejadian ini. Pasalnya, kejadian serupa selalu terjadi. Meski
banyak pemuda di lokasi, tidak membuat tindak kejahatan berkurang. Pemuda hanya
mengimbau agar berhati-hati terhadap barang kepemilikan. Salah satu penghuni
kos di Cendana UTM pernah kemalingan. Beberapa unit laptop serta uang tunai
hilang digondol. Kejadian ini berlangsung pada siang hari saat semua penghuni
tidak di kos.
Tidak hanya kasus
pencurian motor saja yang menjadi permasalahan, bahkan kejahatan pembegalan
pernah terjadi di sekitar Telang. Korban sendiri merupakan mahasiswa UTM yang
berasal dari luar Madura. Meski tidak melukai korban, namun pelaku pembegalan
tetap menggunakan senjata tajam untuk menakut-nakuti korbannya. Hal ini membuat
korban takut melawan dan motor diberikan begitu saja. Tempat kejadian perkara (TKP) bahkian tidak jauh dari
kampus UTM sendiri.
Satu hal yang perlu
diperhatikan terkait dengan kejahatan-kejahatan di hunian kos-kosan ini adalah keberadaan
pelaku sebagai seseorang yang rasional. Pelaku selalu mempertimbangkan untung-rugi tindakan yang akan
dilakukannya. Seperti berapa besar nilai barang yang dicuri dan berapa besar
resiko yang akan ditanggungnya dalam melakukan aksi.
Sebagai seseorang yang
rasional, pelaku pencurian akan melakukan persiapan sebelum melakukan aksi.
Seperti memetakan lokasi dan karakteristik penghuninya. Termasuk dalam hal ini
adalah mengintai “isi” lokasi, misalnya apakah terdapat hanphone, laptop, komputer, televisi, atau sepeda motor.
Meski pihak kepolisian
sudah mengusut kasus tersebut, namun hal ini tidak membuat efek jera bagi para
pelaku kejahatan di sekitar kawasan Telang maupun sekitarnya. Tak ayal,
kekhawatiran terus menghantui warga, sebab Telang sudah dicap rawan kejahatan.
Setelah melihat aksi
pencuri beraksi di malam hari, kini penghuni kos mulai awas dengan mengunci gerbang
dibawah jam 11 malam. Menutup jendela, serta membuat bel kaleng bekas bertujuan
jika ada yang membuka pintu atau gerbang secara paksa, maka bunyi-bunyian itu
akan memberi tanda bahwa ada tamu yang tak diundang.
Pihak RT/RW harus memperhatikan
kejadian ini. Sebab, ini menyangkut kesejehteraan bersama. Apalagi penghuni kos
kebanyakan warga non Madura, ditakutkan akan membawa citra buruk terhadap kampus
dan juga Madura sendiri.
Serta perlunya pos-pos pengamanan di lokasi-lokasi yang dianggap rawan. Amat
disayangkan jika kejadian serupa terus berlanjut.
Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah menyoroti kecenderungan mahasiswa
yang individualis, tidak bergaul baik dengan temannya maupun dengan masyarakat
di sekitar kos-kosan,
hal ini justru
memperbesar peluang terjadinya kejahatan. Aspek ini penting untuk meningkatkan
sensitifitas kewilayahan. Dengan bergaul akan lebih mudah bagi para penguni dan
masyarakat sekitar kos untuk mengetahui siapa orang asing yang berada di
sekitar wilayahnya.
Terakhir, kata Bang Napi, “Kejahatan tidak hanya terjadi
karena niat dari pelakunya, tapi
juga
adanya kesempatan, waspadalah!
Waspadalah!”
*Penulis merupakan
mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Trunojoyo Madura
0 komentar:
Post a Comment