MEDIA SARANG BULLY

Oleh: Moch. Hadi Sangputra
 Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Trunojoyo


Manusia  merupakan makhluk sosial, perlu bergaul dan berinteraksi dengan lingkungan. Tidak jarang dalam aspek sosialisasi tersebut timbul banyak perbedaan yang seringkali memicu munculnya diskriminasi atau bahkan konflik antar sesama. Tentu saja kejadian ini sering kita jumpai dalam berbagai aspek kehidupan di masyarakat, baik itu di lingkungan pendidikan, dunia kerja atau kehidupan bermasyarakat yang lebih luas lagi. Konflik yang di dalamnya mengandung unsur kekerasan atau pelecehan baik secara fisik maupun psikis, biasanya disebut dengan bullying. Ada banyak sekali bentuk perilaku bullying yang dilakukan. Secara fisik biasanya dengan cara memukul, menampar, mendorong atau menendang. Secara verbal misalnya dengan memberikan panggilan yang bersifat mengejek, memarahi, menghina atau mencela. Secara mental, misalnya melakukan pengancaman atau intimidasi dan secara sosial yakni mengucilkan.
Aksi bullying tidak terlepas dari karakter pribadi pelaku. Berdasarkan penelitian, pelaku bullying memiliki kepribadian otoriter, ingin dipatuhi, ingin mengontrol dan menguasai orang lain, sulit melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain, kurang memiliki rasa empati, berperilaku impulsif, agresif dan intimidatif.
Bully terjadi karena adanya  rasa benci, iri, atau dendam. Selain itu, ada juga untuk menyembunyikan rasa malu atau mendorong rasa percaya diri dalam dirinya dengan menganggap bahwa orang lain tidak ada artinya.  Untuk itu, dia akan mencari sasaran aksi bullying dengan cara mencari kelemahan atau sesuatu yang berbeda dalam diri target, misalnya latar belakang sosialnya, fisiknya, budayanya, agamanya atau intelektualnya. Bukan hanya itu, yang menjadi alasan orang mengapa melakukan bully,  disebabkan oleh berhasilnya pendidikan media terutama media televisi dan media internet (social media).
Dampak yang terjadi pada korban bullying sangat berbahaya. Hasil studi yang dimuat dalam jurnal Psychologycal Science mengungkapkan bahwa anak yang menjadi korban bullying akan mengalami hambatan dalam perkembangan mentalnya, tidak percaya diri, takut bersosialisasi, traumatis, hingga depresi. Semua masalah itu bahkan dapat berlanjut hingga dewasa. Tidak hanya itu, dalam jangka panjang korban bullying dapat menderita masalah emosional dan perilaku, menimbulkan perasaan tidak aman, terisolasi, rendah diri, stress, bahkan bisa berakhir dengan bunuh diri.
Program acara televisi adalah faktor terpenting dalam mendukung keberhasilan finansial suatu stasiun televisi. Secara umum program televisi terbagi menjadi 2 jenis yaitu program informasi yang terdiri dari hard news dan soft news. Program hiburan lebih banyak jenisnya, seperti musik, drama, pertunjukan, dan permainan. Dalam program hiburan banyak sekali adegan-adegan bully yang dilakukan oleh pemainnya. Misalnya ketika kita mengingat program hiburan di televisi, pasti kita teringat dengan Dahsyat, Inbox, Pesbuker, Happy Show dan ketika kita melihat acara hiburan tersebut, maka kita akan mendengarkan candaan yang bisa membuat kita tertawa terbahak – bahak, namun jika kita mengamati secara mendalam, didalam candaan tersebut sering terjadi bully membully antar pemainnya.
Pesatnya perkembangan teknologi saat ini membuat aksi bullying merajalela di dunia maya. Bully yang seperti ini bisa disebut juga dengan Cyber bully. Contoh cyber bully yang paling marak saat ini bully lewat sosial media. Kejahatan yang terjadi dalam konteks social media ini pada awalnya memang terbatas pada bullying secara verbal seperti perang kata-kata, mengirim pesan berupa hinaan atau ancaman, menyebarkan gosip, membuat akun palsu target dan melakukan aktivitas seperti update status, mengirim pesan atau komentar yang merusak nama baik target, mengunggah informasi pribadi target tanpa ijin dan masih banyak lagi aksi lainnya. Namun, ternyata hal ini bisa berujung pada kriminalitas, seperti percobaan pembunuhan, bahkan tidak sedikit korban bullying lewat social media berakhir bunuh diri.
Untuk menghindari bullying, diperlukan tindakan tegas agar pelaku bully menghentikan tindakannya. Berikut beberapa tips untuk menghindar dari tindakan bullying
  • Tidak perlu merespon komentar yang bersifat intimidatif, cacian, hinaan, ejekan atau celaan. Biasanya apabila target menunjukkan reaksi tersebut, maka pelaku akan merasa puas dan ia akan melakukan aksinya kembali secara terus menerus.
  • Hindari membalas perilaku bullying. Ini tidak akan menyelesaikan masalah, justru tanpa disadari akan membuat target menjadi pem-bully yang baru.
  • Dampingi anak anda ketika menonton televise.
  • Simpanlah bukti bullying, baik itu berupa foto, pesan atau komentar-komentar sebagai bukti yang nantinya bisa ditunjukkan kepada pihak yang berwenang, seperti polisi, guru atau orangtua.
  • Selektiflah dalam memposting tulisan atau mengupload foto di social media.
  • Disarankan tidak menulis secara detail profil pada social media, seperti alamat rumah, nomor ponsel dan hal pribadi lainnya yang sekiranya tidak benar-benar diperlukan untuk diposting.
  • Tidak sembarangan menerima pertemanan.
  • Untuk keamanan, sebaiknya selalu log out setiap keluar dari situs atau surel pribadi yang sudah digunakan.
Apabila terlanjur sudah menjadi korban bullying, maka gunakanlah akal sehat kita dalam berpikir. Hidup ini terlalu berharga untuk terus diratapi dalam kesedihan. Tak perlu terus-menerus larut dalam komentar-komentar negatif yang mengarah ke kita, baik itu berupa hinaan, ejekan, celaan atau bahkan cacian yang sangat menyakitkan. Kuat dan bangkitlah. Masih banyak hal lain yang lebih baik dan mungkin akan sangat bermanfaat untuk dilakukan daripada terus berlarut-larut dalam keterpurukan. Jangan pernah berpikir untuk mengambil jalan pintas seperti bunuh diri, karena tidak tahan dengan tekanan yang ada. Carilah tempat atau seseorang yang dapat membantu untuk berbagi segala beban dan perasaan.



0 komentar:

Post a Comment

 
Suara Madura © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top