KONTROVERSI  BEAUTY  PAGEANTS

Oleh Robby Roma Rio



Beauty Pageant adalah suatu ajang kecantikan memperebutkan mahkota berlian. Kompetisi ini diadakan dalam tingkat Nasional, Regional dan International. Ajang ini memperlombakan wanita cantik, terbaik dari berbagai penjuru dunia. Wanita yang berhasil memenangkan mahkota, nanti akan mengabdi kepada lingkungan dan masyarakat untuk terjun kelapangan melihat situasi maupun kondisi di suatu Negara. Wanita harus memenuhi syarat 3B yaitu Beauty, Brain, dan Behavior. Selain itu, wanita harus mempunyai otak cerdas dan berkepribadian baik.
Kontes sangat fenomenal hingga sekarang yaitu Miss Universe milik USA pada tahun 1952 diprakarsai oleh Paula Shugart kemudian dibeli oleh bapak Donal Trump hingga sekarang. Kontes ini hanya sebagai ajang pencarian model berbakat dan mempromosikan pakaian bikini, namun, setelah dibentuknya Miss Universe Organization akhirnya kontes tersebut berubah menjadi ajang tahunan. Namun kontes sebelumnya harus mengikuti ajang nasional  dan mendapatkan gelar nasional terlebih dahulu baru nantinya diberangkatkan dari Negara sendiri menuju Negara tempat diselenggarakannya acara beserta pemilik yayasan kontes nasional.
Kontes ini dulunya sangat terbuka sekali karena dalam segi penilaian ditampilkan dilayar kaca ketika kita menonton acara tersebut sehingga tidak adanya pilih kasih dalam pemilihan. Pada tahun 2000 hingga sekarang kontes tersebut adanya penilaian secara tertutup. Nilai yang didapatkan kontestan tidak dimunculkan dilayar kaca sehingga bagi orang yang menontonnya tidak tahu perolehan skor dari masing-masing kontestan.
Muncul sebuah dilema dalam segi penilaian tidak secara terbuka, masyarakat menyukai acara tersebut berkomentar berbagai macam pendapat negatif seperti: 1.Acara tersebut hanya memenangkan Negara tetangga maupun Negara yang mempunyai pageant tersebut. 2.Acara ini hanya memenangkan kontestan America latin saja sedangkan kontestan dari Asia, Africa, maupun Eropa hanya sebagai pelengkap saja. 3.Dalam segi penjurian masing-masing juri berhak memilih kontestan yang mereka sukai atau menarik perhatian untuk masuk sebagai Top Semifinalist bukan dari kemampuan seorang kontestan. 4.Pemilik perusahaan tersebut memilih wanita yang dia sukai tanpa memikirkan tingkah laku maupun kepintarannya.
Kontes harus sesuai dengan kemampuan dari kontestan dan tidak adanya pembedaan diantara semua kontestan yang mengikuti ajang tersebut.  Selain itu, khususnya di Indonesia acara  Beauty Pageants sangat bertentangan dengan orang indonesia. Salah satu yang menjadi kendala bagi indonesia dalam ajang tersebut dengan memakai pakaian bikini yang memperlihatkan dada wanita didepan umum. Indonesia adalah Negara mayoritas muslim tentu sangat bertentangan dengan ajaran agama kita tetapi kalau seandainya kita berpikir secara rasional sebenarnya kita membawa nama indonesia di ajang international. Supaya Negara kita lebih dikenal di mata dunia dan dalam pemakaian bikini itu hanyalah sebagaian kecil dari kompetisi tersebut .Padahal yang kita bawa prestasi bukan sesuatu yang abal-abal.
 Tapi itu sudah menjadi budaya di indonesia bahwa ajang tersebut tidak baik atau tidak layak untuk diikuti oleh kontestan yang berasal dari indonesia, terutama wanita muslim. Meskipun begitu peserta dari indonesia tetap saja mengikuti ajang tersebut tetapi dengan banyaknya hujatan maupun kata-kata yang tidak pantas mereka ucapkan di social media.
Pada awalnya Indonesia tidak boleh mengikuti ajang Miss Universe namun, semenjak tahun 2005 indonesia mulai berpartisipasi kembali setelah hiatus beberapa tahun sebelumnya. Eric Morley ingin mengadakan acara Miss World 2013 di Indonesia namun, warga Jakarta menolak akan hal itu karena kontes seperti ini tidak pantas diadakan di Indonesia. Akhirnya kontes tersebut diadakan di pulau Bali, Nusa Dua. Warga bali menerima kedatangan Miss World karena orang Bali sangat terbuka dengan Beauty Pageants. Orang Bali kebanyakan beragama Budha jadi bagi mereka ajang tersebut tidak menjadi suatu permasalahan.
Ajang yang paling booming seperti Miss Universe juga menuai kontroversi dan kejadiannya itu sempat menjadi perbincangan hangat di berbagai Social Media. Berita  beredar di media nasional maupun International. Peristiwa tersebut  terjadi pada tahun 2014, salah satu kontestan asal Russia tidak terima atas kemenangan kontestan asal Colombia yang menjadi pemenang dalam ajang Miss Universe 2014 yang diadakan di Miami, Florida, US. Hal tersebut dikarenakan dalam menjalani masa karantina selama kurang lebih sebulan Miss Colombia selalu berperilaku tidak menyenangkan bagi kontestan lainnya sehingga kontestan lainnya merasa terganggu, adanya diskriminasi terhadap kontestan lainnya. Pada saat pengumuman pemenang Miss Russia menunjuk Donal Trump karena dia mengatakan tidak layak untuk menang, karena para kontestan lainnya lebih menjagokan Miss Jamaica daripada Miss Colombia, dengan kejadian tersebut Miss Russia dibawa ke backstage untuk diamankan.
Mencermati hal diatas mengenai kontroversi Beauty Pageants sebagai ajang pencarian kontestan bahwa tidak semua orang bisa mengikuti ajang tersebut sehingga tidak adanya persaingan diantara sesama kontestan. Apalagi nantinya pemenang dari ajang tersebut akan turun ke lapangan untuk meneruskan perjuangan dari yang sebelumnya terpilih. Suatu kompetisi tidak seharusnya ada kontroversi, kesan yang didapatkan dari ajang tersebut sangat berharga bagi yang mendapatkannya. Kompetisi akan lebih baik jika berjalan dengan lancar, aman, tertib, tanpa adanya penindasan sehingga akan menciptakan suatu ajang yang berkelas tinggi atau istilahnya benar-benar ajang bergengsi.

Masyarakat akan lebih percaya dengan ajang tersebut bukan hanya sekedar pamer kecantikan tetapi berisi makna yang bermutu dan berkinerja tinggi. Selain itu, ketika juri memilih harus dengan kemampuan dari masing-masing kontestan bukan hanya sekedar materi, hubungan bisnis,  kriteria tertentu maupun kecantikan semata. Juri harus bisa bersikap adil terhadap semua kontestan jangan adanya pilih kasih karena menjadi seorang juri bukan kerja yang mudah membutuhkan tingkat konsentrasi yang tinggi. Juri yang diundang tidak sembarangan harus mempunyai wawasan yang luas, jika juri tidak sportif maka sama saja kompetisi itu tidak ada artinya dalam perlombaan hanya sekedar hura-hura yang tidak berguna.

0 komentar:

Post a Comment

 
Suara Madura © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top