Janji-janji Palsu kampanye di Madura
Oleh: Ismi Fariha*


Kampanye merupakan sebuah tindakan dan usaha yang bertujuan mendapatkan pencapaian dukungan, usaha kampanye biasa dilakukan oleh perorangan atau sekelompok orang yang terorganisir untuk melakukan pencapaian suatu proses pengambilan keputusan dalam suatu kelompok, kampanye biasa juga dilakukan guna memengaruhi, penghambatan dan pembelokan pencapaian. Begitu pula dalam sebuah kampanye politik yang bertujuan untuk mempengaruhi proses pengambilan keputusan para pemilih dan kampanye politik selalu merujuk pada kampanye pemilihan umum.
Dalam setiap kampanye terdapat pesan-pesan yaitu penonjolan ide bahwa calon ingin berbagi dengan pemilih. Pesan yang disampaikan oleh calon kandidat  biasanya terdiri dari beberapa poin yang berbicara tentang isu-isu kebijakan di setiap daerah. janji-janji politik telah menjadi hal yang biasa terjadi, baik menjelang pemilhan kepala desa, camat, bupati, gubernur calon legislatif, hingga presiden. Janji merupakan sebuah hutang yang kita ucapkan kepada seseorang atau diri sendiri yang pada dasarnya adalah janji/hutang haruslah ditepati atau di bayar. Janji pun dilontarkan pada saat kampanye untuk mempengaruhi pemilih. Tetapi, janji-janji tersebut sering kali tidak sejalan dengan janjinya saat kampanye.
Di masa kampanye, semua memberi dan semua berdonasi. Para petinggi parpol dan wakil rakyat semuanya bagaikan malaikat yang manis dan dermawan yang berubah dalam satu malam. Sifat mereka perduli dan mengayomi para rakyatnya. Dan itu terjadi ketika ada maunya dan suara-suara rakyat hanya diperlukan pada saat pemilu saja.  Disaat  ia menjabat sesuai dengan jabatan yang ia harapkan, kebanyakan pesan dan janji-janji calon kandidat  pada saat  kampanye pemilihan di Madura tidak menjamin semua yang dikatakan pada saat kampanye terlaksana dan tercapai sesuai yang kita harapkan dengan janji-janji politik yang pernah ia di sampaikan pada saat kampanye.    
Fokus mereka dalam melakukan kampanye yaitu sama-sama ingin mencapai satu titik kemenangan dan begitu pun juga ingin menjatuhkan lawan. Janji politik yang sering kita dengar dalam setiap kampanye pemilu, ternyata itu hanyalah janji-janji palsu yang sengaja dikonsep demi kepentingan sesaat. Setelah kemenangan itu di dapat, janji tersebut hanyalah sebuah omong kosong bagaikan “Tong kosong nyaring bunyinya”.

Begitu pula pemilu yang terjadi di Madura dalam mendapatkan kemenangan maka memerlukan adanya pendekatan terhadap rakyat, berbagai cara dilakukan oleh calon kandidat untuk mendekatkan atau mendapatkan perhatian dan ingin mendapatkan suara dari rakyat pada saat kampanye. Ada pun salah satu dari cara untuk melakukan pendekatan atau mendapatkan perhatian dan suara dari rakyat yaitu dengan cara melakukan kampanye yaitu dengan bersosialisasi kesetiap desa-desa ataupun ke setiap kecamatan.
Bentuk dari adanya bersosialisasi yang dilakukan oleh calon kandidat dengan melakukan berbagai cara yaitu baik dari segi perjanjiaan atau pesan-pesan yang disampaikan dalam kampanye untuk memperoleh suara dari rakyat. Dalam suatu kampanye pasti terdapat adanya janji-janji yang akan diterapakan dalam suatu daerah guna untuk mensejahterakan masyarakat. Tetapi ketika suara rakyat berhasil didapatkan dan harapannya pun berhasil ia dapat, maka janji-janji yang pernah disampaikan oleh calon kandidat saat kampanye kadang  janji tersebut tidak akan terpenuhi semua.
Seperti halnya kampanye dalam pemilihan calon Bupati dan Wakil Bupati yang ada di salah satu kabupaten di Madura. Janji dari kampanye tersebut yaitu intinya ingin untuk mensejahterakan rakyatnya, termasuk juga pelayanan kesehatan gratis. Setelah ia resmi menjabat sebagai Bupati daan Wakil Bupati, mungkin yang sudah terpenuhi dari janji kampanye tersebut saat ia menjabat sebagai Bupati dan Wakil Bupati yaitu hanya beberapa saja dari janjinya saat ia melakukan kampanye dulu. Kehidupan yang sejahtera yaitu berkehidupan nyaman dan sejahtera, termasuk nyaman dengan lingkungan sekitar kita. Banyak jalan/lorong rusak dan tidak terurus di perdesaan karena kurangnya pemantauan dari atasan sehingg  membuat rakyat merasa tidak nyaman, terganggu dalam perjalanan dan merasa kurang sejahtera. Termasuk dengan adanya pelayanan kesehatan gratis yang ia juga janjikan pada saat kampanye, masyarakat pun juga merasa kurang terpenuhinya dengan adanya pelayanan tersebut dan sampai saat ini masyarakat belum merasakan adanya kebijakan tersebut dari pemerintah, selaku dulu ia pernah janjikan pada saat kampanye.
Realitas yang ada, rasanya sangat jauh melenceng dari janji-janji yang ia ungkapkan pada saat kampanye pemilihan calon Bupati dan Wakil Bupati. Janji disaat menjelang pemilu yaitu menyejahterakan rakyat, tetapi setelah titik kemenangan tersebut didapat sesuai dengan yang ia harapkan.  Janji pun mulai ikut memudar dengan sejalannya jabatan yang mereka dapatkan. Mungkin masyarakat cuma bisa berharap dengan adanya janji-janji politik yang ia ungkapkan dahulu kala  pada saat kampanye berlangsung. Mungkin kepanjangan dari PHP (pemberi harapan palsu) lebih cocok untuk diartikan (politik harapan palsu).
Pemilu akan terlaksanakan di Madura tepatnya di kabupaten Sumenep pada tanggal 09 Desember 2015 yaitu pemilihan Bupati dan Wakil Bupati. Sebagai masyarakat yang cerdas yakni harus pintar dalam memilih mana yang baik dan pantas untuk kita jadikan pemimpin, tanpa harus terpengaruh oleh pesan dan janji-janji dari suatu kampanye. Janji yang kita harapkan dari seorang calon kandidat dalam suatu kampanye kadang tidak sesuai dengan setelah ia dapatkan, atau apa yang dijanjikan sebelum menjabat dengan setelah menjabat itu berbeda. Sebagai rakyat kami tidak membutuhkan adanya janji-janji manis dari suatu kampanye, tetapi kita butuh bukti dari suatu kampanye, apalah arti dari suatu janji kampanye jika janji tersebut tidak akan pernah ditepati. 
*Penulis adalah mahasiswa di UNIVERSITAS  TRUNOJOYO MADURA Fakultas FISIB, Jurusan ILMU KOMUNIKASI asal Gapura Kab. Sumenep
 

0 komentar:

Post a Comment

 
Suara Madura © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top