Dakwa sebagai Trik Kekuatan Kampaye Politik
( Sang Panutan )
Oleh : Devi Pratiwi Mahasiswa Ilmu Komunikasi #CIE UTM



Salah satu ajaran islam yang paling penting dan berorientasi praktis dan strategis (Strafegic Oriented) adalah ajakan kepada manusia agar berada dan tetap berada dalam jalan benar  yang popular disebut dakwa.
Pada dasarnya dakwa islamiah adalah proses al tahawwul wa al taqhayur, transformasi dan perubahan yaitu suatu proses dari yang tidak baik ke arah yang baik dan dari yang baik kearah yang lebih baik, hingga terbangun kehidupan individu dan masyarakat islami. Untuk itu, gerakan–gerakan dakwa melakukan berbagai aktivitas dan aksi demi terbentuknya perubahan–perubahan yang terjadi  tidak melenceng dari tujuannya yang dikehendaki, yaitu kepada kehidupan yang lebih islami, maka gerakan–gerakan dakwa umumnya sangat berpegang teguh pada metode perubahan (manhaj taqhyir) seperti yang ditentukan dalam al–qur’an dan di contohkan oleh rosulullah Saw. Proses demokrasi dan gaung liberalisasi telah memicu dan memacu aktivitas keberagaman ummat. Kegiatan itu pun biasanya di pusat–pusat kajian islam, seperti di klub diskusi mesjid–mesjid kampus (mahasiswa) untuk kaum ibu–ibu biasanya dilakukan di tempat–tempat pengajian.
Pendektan Dakwa Antar Budaya
Dakwa antar budaya di definisikan sebagai proses dakwa yang mempertimbangkan keragaman budaya antar da’i (subjek dakwa) dan mad’u (objek dakwa) dan keragaman penyebab terjadinya gangguan interaksi pada tingkat intra dan antarbudaya agar pesan dakwa dapat tersampaikan dengan tetap terpeliha ranya situs damai.
Sebuah keniscayaan bahwa seiring perjalanan dakwa, islam akan meminpin peradaban dunia kenicayaan ini berupa suatu keharusan bagi dakwa untuk memasuki wilayah public yang menyangkut masalah social dan politik. Hijrah yang dilakukan rosulullah Saw. dan sahabat merupakan titik awal berdirinya organisasi politik dalam sejarah islam. Kenyataannya system siasah yang kini berlaku di dunia islam adalah system siasah yang tidak bersumber dari ajaran islam. Karena itu system siasah islam praktis terpinggirkan dari jagat siasah dunia. Akibatnya kepribadian siasah islam lenyap, UUD, hukum, dan etika siasah hilang. Hal itu yang kerap terjadi menyebabkan nasib islam nyaris seperti agama nasrani yang hanya mengajarkan urusan agama untuk pribadi, tidak menyentuh masalah–masalah kemasyarakatan, apa lagi urusan siasah. Kebayakan yang terjadi di masa kini dakwa kerap hanya di pergunakan sebagai trik kampaye politik oleh berbagai kalangan atas yang ingin menarik perhatian maupun dukungan dari berbagai tujuan.
Di saat kampanye–kampanye partai politik sedang panas–panasnya melanda sebagian negeri ini. Hal ini menimbulkan suatu fenomena tersendiri. Mesjid tidak lagi di jadikan sebagai madrasah taklim dengan berbagai khasanah ilmu agama, namun saat ini malah melenceng sebagai tempat berkampanyenya partai politik. Tak jarang di temui jika para mubaligh di bulan ramadhan pun masih menyampaikan dakwa dengan nuansah politik. Apalagi di Pedesaan adalah incaran para cendekiawan (para kiayi calon / pendakwa) yang ingin mendapatkan dukungan suara. Sebut saja A salah seorang calon Bupati Sumenep 2015-2020 yang jauh hari sudah melakukan kunjungan dengan tujuan sosialisasi sudah berhasil menarik banyak warga ke mesjid Nurul Hidayah dengan pembagian kupon yang kemudian di tukarkan dengan sejumlah sembako. Dalam sosialisasinya yang bertema dakwa islam hanya menjadi latar belakang saja, karena pada hakikatnya keseluruhan dakwanya hanya kampanye politik yang semata–mata hanya untuk menarik dukungan warga. Hal tersebut memang cukup sering dipergunkan sebagai objek kekuatan politik untuk mngumpukan poin suara. Hal lain dengan Cara melalui berbagai aspek, antara lain melalui perancuan cara berfikir dalam pemikiran tujuan pendakwa. Untuk melancarkan suatu proses yang mereka sebut sekularisasi. Celakanya, proses sekularisasi ini kemudian banyak diadopsi secara membabi buta oleh sebagian cendekiawan (para kiayi calon / pendakwa). Contoh lain, ialah ibadah haji para pemimpin sekuler. Tindakan itu dalam kontek siasah bisa di artikan sebagai pesan upaya menarik hati dan dukungan kaum masyarakat. Dengan yang ia lakukan semata–mata hanya berharap memperoleh dukungan secara politik dan legitimasi sebagai panutan. Hal serupa juga banyak ditemui di mesjid–mesjid lain sekitar Kabupan Sumenep tersebut. Karena desa–desa terpencil yang padat akan penduduk akan menjadi objek sasaran bagi cendekiawan (para kiayi calon / pendakwa).
Faktanya pada saat ini  Politik kemudian diserap dalam bahasa Indonesia dengan tiga arti, yaitu : (1). Segala yang berkaitan dengan tindakan, kebijaksanaan, siyasah, dsb, (2). Mengenai pemerintahan suatu negara atau terhadap negara lain, tipu muslihat atau kelicikan, (3).Dipergunakan sebagai nama bagi semua disiplin ilmu pengetahuan, yaitu ilmu politik.
Hal tersebut kemudian di manfaatkan sebagai lahan subur perpolitikan untuk meraup sebanyak mungkin suara-suatu partai politik baik pemilihan Gubernur maupun pemilihan Bupati dengan embel–embel memberikan sumbangan. Masyarakat sasaran pun kemudian ikut menjadi plopor dan tak jarang juga cendekiawan (para kiayi calon / pendakwa) ikut dalam politik praktis. Yang menjadi pertimbangan adalah dengan menduduki suatu kepemimpinan maka syi’ar agama / dakwa akan semakin mudah dan di permudah, baik dakwa bil lisan maupun dakwa bil hal (dakwa dengan kata–kata, dakwa dengan tindakan dan materi). Namu dalam realitanya di masyarakat hal itu tampak terbalik, mereka hanya menjadikan dakwa sebagai kompetisi perebutan kekuasaan. Seperti cendekiawan (para kiayi calon / pendakwa) A mengusung bendera putih sedangkan cendekiawan (para kiayi calon / pendakwa) B mengusung bendera merah begitu pula dengan para cendekiawan (para kiayi calon / pendakwa) yang lain mendukung bendera masing – masing. Kemudian Keadaan tersebut yang mendorong sehingga nilai guna dan kerohanian dakwa salah di pergunakan.

Hal tersebut akan menjadi tolak ukur bagaimana dan kemana dakwa keislaman akan dibawah . masjid dan pondok pesantren sering kali menjadi rebutan partai politik dan para kandidat, keterlibatan cendekiawan (para kiayi calon / pendakwa) dan kiprahnya dalam bidang politik memang cukup fenomenal untuk diangkat ke permukaan serta eksistensi mesjid dan pondok pesantren sebagai institusi ajaran pendidikan islam yang “ kadang–kadang ” dimanfaatkan oleh pengasuhnya (para kiayi calon / pendakwa) untuk mendukung kepentingan politik tertentu. Dalam konteks politik, cendekiawan (para kiayi calon / pendakwa) dapat mendatangkan suara dalam jumlah yang besar, karena tokoh kharismatik akan selalu menjadi incaran team sukses atau partai politik untuk kampanye–kampanye politik, cendekiawan (para kiayi calon / pendakwa) diharapkan akan mengkristalisasikan pengaruhnya pada persepsi politik masyarakat. Maka berbagai pola pendekatan yang dilakukan oleh aktor politik (termasuk team sukses) untuk memperoleh sebanyak mungkin dukungan masyarakat dari cendekiawan (para kiayi calon / pendakwa) yang merupakan manifestasi dari keinginan mereka untuk mengambil pengaruh untuk memengkan calon tersebut dalam pemilihan yang akan dilakukan. Oleh karena itu dakwa kerap menjadi objek sebagai trik kekuatan kampanye politik cendekiawan (para kiayi calon / pendakwa). cendekiawan (para kiayi calon / pendakwa) tersebut ialah pemimpin–pemimpi yang selama ini menjadikan ucapan–ucapannya bernilai hukum dan menjadi petunjuk bagi masyarakat yang menjadikan dirinya sebagai pusat kekuasaan.

0 komentar:

Post a Comment

 
Suara Madura © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top