Catatan
Risang Bima Wijaya
SALAKNYA HABIS
DI Bangkalan, ada sebuah kampung yang dinamai kampung pesalakan.
Entah dari mana dan bagaimana asal usul nama tersebut. Yang pasti, dulu, di
kampung itu banyak tumbuh tanaman salak. Buah yang berduri dan bersisik itu,
yang kemudian menjadi julukan kota Bangkalan, sebagai kota salak.
Sebab, bukan hanya di Kampung Pesalakan yang banyak salak. Tetapi,
hampir di semua tempat di Bangkalan, salak banyak tumbuh dan dibudidayakan. Di
pinggir-pinggir jalan Bangkalan, banyak orang berjualan salak di trotoar jalan,
dengan bungkusnya yang khas, yang disebut besek, atau kotak yang dibuat dari
anyaman daun lontar.
Tapi, itu hanya cerita dahulu kala. Dan hanya tersisa cerita pada
anak cucu kita. Ceritanya kira-kira begini. Dulu, di sini bukan perumahan, tapi
kebun salak. Dulu, disini nggak ada ruko, tapi salak. Dulu, dari sini sampai
sana itu, kebun salak semua. Hanya cerita tanpa dokumentasi, dan julukan kota
salak yang tanpa makna.
Tapi, apakah karena pohon salak sudah tidak ada lagi atau sudah
jarang, lantas sejarah itu dihapuskan begitu saja? Kini, Bupati Bangkalan telah
membuat Surat Keputusan mengganti julukan Kota Salak menjadi Kota Dzikir dan
Shalawat.
Julukan yang sangat islami, sangat berbau surga dan juga banyak
beban di balik julukan itu. Mungkin, landasan sejarahnya sudah mencukupi untuk
julukan islami tersebut. Karena dari Bangkalan-lah dulu banyak dicetak
ulama-ulama besar yang menyebar di seluruh nusantara.
Bebannya, sebagai aplikasi julukan itu, tentu sudah tidak ada lagi
perbuatan maksiat dan jahat di Bangkalan. Tidak ada lagi pemimpin atau wakil
rakyat yang terlibat narkoba. Tidak ada lagi kampung sabu di Bangkalan. Tidak
ada lagi dewan yang rapat di diskotek dan karaoke. Dan tidak ada korupsi serta
pungli.
Sementara, saat ini masih ada dua dewan Bangkalan yang
direhabilitasi karena narkoba. Masih ada seorang anggota dewan Bangkalan yang
disidangkan karena menyetubuhi anak tirinya yang masih ingusan. Masih ada
pungutan liar, setoran, pencaplokan tanah negara, dan persekongkolan jahat.
Hampir sepekan sejak deklarasi Bangkalan sebagai Kota Dzikir dan
Shalawat, tak tampak bahwa Bangkalan sudah berubah berdzikir dan bershalawat.
Gempita kumandang dzikir dan shalawat, hanya riuh terdengar saat deklarasinya
saja. Setelahnya, masih ada pungutan liar, jual beli proyek, pecandu di kampung
narkoba, pelayanan masyarakat yang masih dengan pungutan tak resmi.
Semoga, julukan yang baik dan surgawi itu, bisa diaplikasikan.
Mungkin tidak akan bisa sekajap mata. Dan takkan semudah membalik telapak
tangan. Tapi, setidaknya perlahan bisa diwujudkan bukan hanya sekadar julukan.
Selamat tinggal maksiat, selamat tinggal kota sabu, selamat tinggal kota
korupsi, selamat tinggal kota tipu dan muslihat, selamat datang Bangkalan kota Dzikir dan Shalawat.*

0 komentar:
Post a Comment